Minggu, 24 April 2016

UAS MANAGEMEN DAN KEPEMIMPINAN

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Ujian Akhir Semester
Nama Mahasiswa : Alvian Kurniawan
Program Studi : Pendidikan Bahasa
Mata Kuliah : Kepemimpinan dan Managemen Pendidikan
SKS : 2 SKS
Hari, Tanggal : Senin, 25 April 2016
Dosen : Dr. Subadiyono, M.Pd. dan Prof. Waspodo, Ph.D.

Soal
1. Jelaskan rambu-rambu dalam merumuskan visi suatu institusi dengan kependekan atau akronim SMART ini!
Jawab:
S = Spesific (Spesifik)
Artinya, perumus visi harus melakukan perumusan dengan sasaran dan tujuan yang jelas. Dengan kejelasan sasaran dan tujuan, maka akan memberikan kepraktisan dalam mengambil langkah-langkah pelaksanaan.

M = Measurable
Artinya, perumus visi harus merumuskan visi yang dapat dengan mudah untuk diukur sasarannya. Sasaran yang dapat diukur seperti waktu, uang, kualitas, dan lain-lain.

A = Aggressive/Achievment
Artinya, perumus visi harus merumuskan suatu tujuan yang menantang dan dapat berkembang dalam kurun waktu tertentu serta dapat membuahkan sebuah prestasi.

R = Realistic
Artinya, perumus visi harus merumuskan visi dengan sasaran dan tujuan yang benar-benar logis dan dapat dengan nyata dilaksanakan.

T = Time Frame
Artinya, perumus visi harus merumuskan sasaran dan tujuan yang telah ditargetkan dalam satu skala waktu tertentu.

2. Buatlah sebuah visi suatu lembaga tempat Saudara bekerja atau lembaga yang sedang Saudara pikirkan!
Jawab: Visi lembaga sekolah atau lembaga tempat saya bekerja yang saya pikirkan adalah “Peningkatan prestasi, perubahan sikap dan tingkah laku yang baik, serta keberhasilan dalam mendidik sumber daya manusia yang berkualitas”.

3. Saudara lakukan analisis SWOT terhadap Program Magister Pendidikan Bahasa FKIP!

Strenght (kekuatan) : Kekuatan yang dimiliki oleh Magister Pendidikan Bahasa Unsri, seperti: staff administrasi, dosen-dosen, mahasiswa-mahasiswi, pelayanan, fasilitas dan lain-lain adalah sebagai berikut.
1) Tenaga pengajar memiliki jenjang pendidikan Strata 3 (S3);
2) Kualitas image/ brand yang sudah diakui oleh masyarakat;
3) Infrastruktur dan Fasilitas yang terus berkembang setiap tahunnya;
4) Lokasi Kampus berada di Kota Palembang, jadi memudahkan mahasiswa dari Kota Palembang untuk menempuh jarak perjalanan yang singkat;
5) Program Studi yang terakreditasi B oleh BAN-PT;
6) Banyak peminat dari berbagai lulusan Universitas swasta dan negeri baik dari dalam ataupun luar kota Palembang.
7) Bantuan program beasiswa bagi sebagian mahasiswa.
8) Memiliki lulusan yang dapat diterima di berbagai instansi, sekolah, dan lain-lain.
9) Sistem administrasi cukup praktis dengan mempergunakan sistem online.
10) Banyak menerbitkan jurnal-jurnal penelitian yang berkualitas.

Weakness (kelemahan): Hal-hal yang menjadi kelemahan atau kendala pada Program Magister Pendidikan Bahasa Unsri adalah sebagai berikut.
1) Ruangan yang kurang nyaman, seperti: keramik pecah, kipas angin tua, kursi-kursi berserakan, dan lain-lain.
2) Media belajar infocus tidak terpasang di ruangan, melainkah harus mengambil dan mengembalikan di tempat terpisah.
3) Masih minimnya kesadaran dosen untuk datang mengajar tepat waktu.
4) Lokasi yang semrawut terlebih pada parkiran sepeda motor yang dinilai kurang kurang rapi.
5) Pelayanan informasi dari administrasi/TU yang lambat.
6) Fasilitas Praktik yang kurang lengkap.

Opportunity (Peluang): Peluang dari Program Magister Pendidikan Bahasa adalah sebagai berikut.
1) Menjadi Universitas terbaik di Palembang khususnya, dan Sumatra secara umum apabila terdapat dukungan dari civitas akademika.
2) Dengan dana dari mahasiswa yang terus meningkat dapat memperbaiki dan menambah layanan serta fasilitas yang ada saat ini.
3) Lokasi yang berada di perkotaan memberi peluang besar dalam perkembangan Universitas baik dalam jangka pendek ataupun panjang sehingga harus dimanfaatkan dengan baik untuk perkembangan kampus.
4) Dengan meningkatnya jumlah mahasiswa membuat permintaan akan tambahan program studi pun bertambah.
5) Dengan minimal dosen S3, Magister Pendidikan Bahasa Unsri memiliki peluang besar dalam menciptakan lulusan yang handal dan professional.

(Threat) Ancaman: Faktor–faktor ancaman pada Program Pendidikan Bahasa Unsri adalah sebagai berikut.
1) Bertambahnya Persaingan Pendidikan Tinggi yang ada di daerah Palembang.
2) Bertambahnya persaingan dalam Program studi karena bertambahnya kampus yang ada di Palembang.
3) Terjadinya persaingan kualitas, fasilitas dan persaingan biaya administrasi.
4) Menurunnya jumlah mahasiswa karena banyaknya saingan dan pilihan bagi mahasiswa dalam menentukan kampus yang dipilih.

TABEL MATRIK SWOT
Faktor Internal

Faktor Eksternal Kekuatan (Strength)

(ada di atas) Kelemahan (Weakness)

(ada di atas)
Peluang (Opportunity) S-O
Strategi:
1) Mengoptimalkan pendidikan dosen S2 pada program S1 untuk kuliah S3 agar dapat menjadi tenaga dosen baru pada program S2.
2) Mempertahankan konsistensi mutu agar imej dan brand Pasca Sarjana Unsri dapat dipercaya masyarakat.
3) Mengalokasikan dana untuk renovasi gedung dan penambahan fasilitas sekolah.
4) Sistem informasi dibuat semakin praktis. W-O
Strategi:
1) Memperbaiki fasilitas yang rusak.
2) Membeli sarana yang dibutuhkan.
3) Penataan kembali keadaan kampus agar tidak semerawut.
Threat (Ancaman) S-T
Strategi:
1) Mengasah mutu mahasiswa agar tidak kalah dengan mahasiswa dari Universitas lain.
2) Mensosialisasikan keunggulan program kepada masyarakat.
3) Memberikan beasiswa agar mahasiswa tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan kuliah.
W-T
Strategi:
1) Memberikan motivasi bagi mahasiswa dan dosen untuk disiplin masuk tepat waktu.
2) Menambah tenaga di bagian TU, agar administrasi lebih cepat.
3) Memperbaiki pelayanan fasilitas dan media yang dibutuhkan.
4. Dengan menggunakan cara berpikir managemen transformasioanal, silahkan Saudara sebutkan 5 program pada suatu lembaga agar lebih fungsional. Dari kondisi tertentu menuju kondisi tertentu pula.
Jawab:
1. Mempertinggi Kerjasama Tim dalam menyelesaikan tugas ataupun masalah kelembagaan
Dalam hal ini Kepala Sekolah harus bersikap terbuka pada masalah-masalah yang dihadapi di lembaga atau sekolah yang dipimpinnya. Keterbukaan tersebut dapat berupa pelibatan tim dalam menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi. Dengan adanya penyelesaian masalah dengan kerja sama, jelas akan menumbuh kembangkan kekuatan besar untuk menyelesaikan tugas secara cepat dan lebih ringan.

2. Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang bersifat positif
Pelatihan ditujukan sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan lembaga atau sekolah saat itu. Contoh: TU diberikan kesempatan untuk belajar komputer dengan biaya yang ditanggung lembaga.

3. Mengambil keputusan atau pemecahan masalah dengan pendekataan keilmiahan
Kepala sekolah mendukung dan mendorong guru-guru yang ingin melakukan tindakan penelitian kelas. Dengan hal tersebut, jelas terdapat solusi-solusi yang diperoleh secara empirik.

4. Melaksanakan kegiatan supervisi secara rutin
Untuk memantau sejauh mana guru menguasai materi dan melaksanakan pembelajaran, Kepala sekolah sudah selayaknya melakukan supervisi untuk melihat secara lansgung dan memberikan sumbangsaran kepada guru-guru yang disupervisinya.

5. Menciptakan iklim kerja yang nyaman
Membuat suasana bekerja yang tentram dengan tidak ada tekanan yang memberatkan guru, serta mengarahkan untuk membuat dan menjalankan tujuan pembelajaran sampai dengan memberikan penghargaan bagi guru-guru yang berprestasi.

6. Apa manfaat interpersonal inteligensi bagi seorang pemimpin suatu lembaga. Jelaskan!
Jawab:
1. Menjadi orang dewasa yang sadar secara sosial dan mudah menyesuaikan diri
Intelegensi personal memacu seseorang untuk dapat beradaptasi dengan siapapun dan di manapun. Kecerdasan ini dapat mendorong seseorang berfikir bahwa manusia juga membutuhkan orang di sekitar. Ia harus berinteraksi dan mengenal orang satu ke orang yang lain. Orang-orang dengan kecerdesan ini akan terus mengembangkan penyesuaian diri mereka terhadap lingkungan sekitar.
2. Menjadi berhasil dalam pekerjaan
Pekerjaan membutuhkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh berkat kecerdasan. Jadi, dengan kecerdasan interpersonal, berbagai kendala dalam pekerjaan dapat segera di atasi.

3. 3. Mewujudkan kesejahteraan emosional dan fisik
4. Kecerdasan interpersonal mampu memberikan pengaruh terhadap emosional. Mereka yang cerdas, dapat mengontrol sikap emosional yang berlebihan. Mereka juga mampu mengatur di mana sajakah sikap emosional itu diperlukan dan tidak harus diperlukan. Demikian pula, kecerdasan interpersonal dapat mensejahterakan fisik. Mereka yang cerdas, mampu mengatur, membawa dan merawat fisik dengan sebaik-baiknya.
5.
7. Untuk apa Total Quality Management itu? Dapatkan Saudara memberi contoh aplikasinya?
Jawab: Total Quality Management System atau disingkat dengan TQM adalah suatu sistem manajemen kualitas yang berfokus pada Pelanggan (Customer focused) dengan melibatkan semua level karyawan dalam melakukan peningkatan atau perbaikan yang berkesinambungan (secara terus-menerus). Total Quality Management atau TQM ini menggunakan strategi, data dan komunikasi yang efektif untuk meng-integrasikan kedisplinan kualitas ke dalam budaya dan kegiatan-kegiatan perusahaan. Singkatnya, Total Quality Management (TQM) adalah pendekatan manajemen dengan tujuan untuk mencapai keberhasilan jangka panjang melalui Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction). Contoh pengaplikasian total quality managemen ini seperti: ketika sekolah yang menerapkan sistem ini kepada siswanya sebagai konsumen yang harus dipuaskan dengan layanannya, maka pihak sekolah dapat menerapkan hal-hal sebagai berikut.
Fokus pada Pelanggan (Customer Focussed): Dalam hal ini kepala sekolah dan para guru banyak mengikuti
pelatihan untuk meningkatkan kualitas diri. Pelatihan tersebut diarahkan kepada bentuk perhatian yang akan
diberikan kepada siswa.
Keterlibatan Karyawan secara keseluruhan (Total Employee Involvement): Guru perlu dilibatkan secara keseluruhan untuk dapat mendukung program sekolah dalam melakukan peningkatan proses dan kualitas yang berkesinambungan yang kemudian menghasilkan produk dan layanan yang terbaik untuk siswa.
Pemusatan perhatian pada Proses (Process-centered): Kepala sekolah dan guru sama-sama
memperhatikan proses ketika siswa masuk sampai dengan keluar.
Sistem yang Terintegrasi (Integrated System): Kepala sekolah harus mengoptimalkan suatu sistem yang terintegrasi dengan baik agar visi, misi, strategi, kebijakan, tujuan dan sasaran perusahaan dapat dikomunikasikan dengan baik dan jelas kepada semua guru.
Pendekatan Strategi dan Sistematik (Strategy and Systematic Approach): Strategi ini dilakukan dengan perumusan dan perencanaan strategi dalam mengintegrasikan konsep kualitas ke dalam Strategi program sekolah secara keseluruhan.
Peningkatan yang berkesinambungan (Continual Improvement): Peningkatan yang berkesinambungan mendorong sekolah untuk melakukan analisis dan menciptakan cara-cara yang lebih bersaing dan efektif dalam mencapai tujuan sekolah dan memenuhi harapan semua pihak yang berkepentingan.
Keputusan berdasarkan Fakta (Fact-based decision making): TQM mewajibkan pihak sekolah mengumpulkan dan melakukan analisis data secara berkesinambungan agar keputusan ataupun kebijakan yang diambil benar-benar akurat dan tepat sasaran. Dengan adanya data, kita dapat menarik kesimpulan berdasarkan kejadian ataupun hasil sebelumnya.
Komunikasi (Communications): Semua komponen baik dari guru, siswa atau apapun itu yang berhubungan dengan program sekolah harus dikomunikasikan dengan kepalas sekolah.
8. Jika menjadi seorang pemimpin gaya kepemimpinan apa yang akan anda terapkan? Jelaskan kondisi lembaganya dan apa alasan menerapkannya!
Jawab: Jika saya menjadi seorang pemimpin, saya akan mempergunakan gaya kepemimpinan yang demokratis. Sebab, gaya kepemimpinan ini memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Selain itu, dalam gaya kepemimpinan demokratis, pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab kepada para bawahannya. Jelas ini sesuai dengan kondisi lembaga yang terdiri atas pimpinan dan bawahan.

9. Bagaimana mengupayakan terkondisinya kultur tertib di suatu sekolah?
Jawab: Mengupayakan terkondisinya kultur tertib di suatu sekolah dengan cara membuat aturan-aturan yang disepakati bersama, lalu menjalankan, mengawasi, dan mematuhi aturan-aturan tersebut. Selain itu, juga adanya sanksi dan penghargaan bagi yang melnggar dan berhasil tidak melanggar kultur ketertiban tersebut dalam kurun waktu selama berada di lingkungan sekolah.

10. Bagaimana berupaya menjadi be real person (not just a teacher, be inclusive, be fair, be sensitive to students’s concerns).
Jawab: Menjadi orang yang nyata (bukan hanya guru, inklusif, adil, peka terhadap kekhawatiran siswa) .
dapat kita lakukan dengan hal-hal sebagai berikut.
1) Sadar kewajiban: dalam hal ini, inkusif, adil, dan peka merupakan sesuatu yang harus dilakukan setiap orang. Guru adalah manusia. Untuk itu, guru harus mempunyai jiwa kemanusiaan dan sadar atas kewajibannya menjadi manusia yang harus bersikap adil dan peka terhadap orang lain, dalam hal ini adalah siswa.
2) Menumbuhkan rasa memiliki: dengan menganggap siswa sebagai milik kita, maka segala daya upaya untuk menumbuhkembangkan hal-hal positif seolah menjadi keharusan bagi kita.
3) Ikhlas dalam bekerja: dengan keikhlasan tersebut, semua bentuk kepedulian kita terhadap siswa akan sangat tinggi. Tidak ada rasa perhitungan atau takut rugi melakukan sesuatu.

11. Dari materi yang dipelajari, konsep atau pernyataan apa saja yang paling membuat terkesan sehingga Saudara ingin mengaplikasikannya. Jelaskan!
Jawab: Materi yang membuat saya terkesan saat mempelajari mata kuliah ini adalah materi yang saya presentasikan. Saya mempresentasikan mengenai materi belajar sebagai program. Dalam materi tersebut dijelaskan tentang beberapa program-program pemerintah di beberapa negara yang bekerja sama dengan beberapa universitas memberikan pelatihan khusus terhadap calon pemimpin. Bahkan ada diantaranya, dijelaskan bahwa di Missisipi calon kepala sekolah dianggap cuti kerja selama memperoleh pendidikan. Mereka masih digaji oleh pemerintah. Dari sanalah, saya berfikir bahwa saya perlu belajar menjadi seorang pemimpin. Sebab, pemimpin tidak lahir dari unsur kepraktisan. Lalu, jika nanti saya menjadi seorang pemimpin, saya juga harus berfikir bijak kepada bawahan saya apabila mereka menempuh pendidikan guna membesarkan nama lembaga di tempat yang saya pimpin nanti, maka disitulah saya harus memberikan dukungan agar mereka tidak terbebani.

Selasa, 16 Februari 2016

KTI: PEMEROLEHAN BAHASA PADA MUHAMMAD IRFAN DIMAS, OLEH: ALVIAN KURNIAWAN, S.Pd

PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA PADA MUHAMMAD IRFAN DIMAS

disusun oleh:

ALVIAN KURNIAWAN
Nomor Induk Mahasiswa 06012681519029
Program Studi Magister Pendidikan Bahasa
Bidang Kajian Utama Pendidikan Bahasa Indonesia

Mata Kuliah : Pemerolehan Bahasa Kedua
Dosen Pengasuh: 1. Dr. Subadiyono, M.Pd.
2. Dr. Agus Saripudin, S.Pd., M.Ed.





FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur tercurahkan atas kehadirat Allah swt karena atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penelitian pemerolehan bahasa pertama pada Muhammad Irfan Dimas ini dapat diselesaikan. Makalah ini disusun sebagai tugas akhir perkuliahan mata kuliah pemerolehan bahasa kedua pada semester satu program studi magister pendidikan bahasa dengan bidang kajian utama pendidikan bahasa Indonesia di Universitas Sriwijaya Palembang.
Penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Subadiyono, M.Pd dan Dr. Agus Saripudin, S.Pd., M.Ed selaku dosen pengajar mata kuliah ini, serta semua pihak yang telah membantu memberikan memotivasi, sehingga tugas ini dapat diselesaikan.
Makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dari segi isi maupun teknik penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan makalah selanjutnya.

Palembang, November 2015









DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................................
Kata Pengantar ........................................................................................................... i
Daftar Isi ...................................................................................................................... ii

Pendahuluan ................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
C. Tujuan ................................................................................................................ 2

Pembahasan ................................................................................................................. 3
A. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Fonologi 3
B. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Sintaksis 4
C. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Semantik 5
D. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Morfologi 6

Penutup ............................................................................................................................ 7
A. Simpulan ................................................................................................................ 7
B. Saran ....................................................................................................................... 7

Daftar Pustaka ............................................................................................................. 8

Lampiran ....................................................................................................................... 9


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemerolehan (aquisition) merupakan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa anak adalah proses bagi anak saat mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal. Dalam hal ini, pemerolehan bahasa pertama dapat terjadi jika anak yang sebelumnya lahir tanpa bahasa, kini telah memperoleh satu bahasa.
Anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi dari pada bentuk bahasanya pada saat ia memperoleh bahasa. Pemerolehan bahasa anak cukup kesinambungan, memiliki rangkaian yang satu dan bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Pemerolehan bahasa pertama anak tentunya berbeda-beda. Untuk melihat perbedaan itu, tidak serta merta hanya diperoleh melalui teori-teori saja. Dalam hal ini diperlukan adanya pengamatan khusus terhadap anak-anak. Sehingga, peneliti menggangap perlu untuk mengadakan penelitian terhadap pemerolehan bahasa pertama pada seorang anak berusia dua tahun yang bernama Muhammad Irfan Dimas.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang fonologi?
2. Bagaimanakah pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang sintaksis?
3. Bagaimanakah pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang semantik?
4. Bagaimanakah pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang morfologi?




C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengalisis dan mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang fonologi.
2. Untuk mengalisis dan mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang sintaksis.
3. Untuk mengalisis dan mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang semantik.
4. Untuk mengalisis dan mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang morfologi.




BAB II
PEMBAHASAN
PEMEROLEHAN BAHASA PADA MUHAMMAD IRFAN DIMAS

A. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Fonologi
Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang fonologi, diperoleh data sebagai berikut.
1. Pola Fonem “Konsonan-Vokal” dan “Vokal-Konsonan”
Kata-kata yang diucapkan Dimas berdasarkan pola fonemnya, pada umumnya dimulai dengan fonem konsonan yang kemudian diikuti fonem vokal, seperti kata “ma”, “pa”, dan lain-lain. Demikian pula sebaliknya, ada beberapa kata yang didahului dengan fonem vokal baru kemudian fonem konsonan, seperti kata “om”, “adek” dan lain-lain.

2. Mucul Fonem Vokal Rangkap dalam Satu Kata
Peneliti juga memperoleh data bahwa ada beberapa kata yang diucapkan oleh Dimas yang menggunakan dua fonem vokal yang sama dan berurutan, misalnya kata “oom”, “eek”, dan lain-lain. Meskipun juga terdapat kata-kata yang dua fonemnya berbeda, namun berurutan, seperti kata “aek”. Namun, proporsi fonem vokal yang sama dan berurutan itu lebih banyak diucapkan Dimas, dibandingkan yang berbeda fonem vokal. Bahkan ketika mengucapkan vokal yang berbeda tersebut, suara tidak terlampau jelas terdengar pada fonem kedua. Sedangkan, kata yang vokalnya sama terdengar dengan jelas dan tepat pemenggalannya.

3. Hilangnya Beberapa Konsonan Hambat di Awal Kata
Konsonan hambat pada umumnya menghambat pengucapan ketika udara keluar dari paru-paru. Konsonan di awal kata seperti /p/, /b/, /k/, /t/ dan /d/ sering sekali hilang pada saat diucapkan oleh Dimas. Dalam pengamatan peneliti, Dimas sering mengucapkan kata “asah” dari kata “basah”, “ucuk” dari kata “busuk” yang berarti menghilangkan konsonan “b” di awal kata; selain itu terdengar pula kata “aket” dari kata “sakit”, “ano” dari kata “sano” yang berarti menghilangkan konsonan “s” di awal kata. Selain itu, tidak munculnya konsonan “t”, pada kata “empat” yang berarti “tempat”, “angkap” dari kata “tangkap”. Sedangkan, pada fonem “k” selain hilang, terkadang juga berubah fonem, misal: “kau” menjadi “au”, “kakak” menjadi “tatak”, dan lain-lain.

4. Sulit Menyebutkan Suku Kata Awal yang Dimatikan dengan Konsonan Nasal “N”
Konsonan nasal adalah konsonan yang dihasilkan oleh udara yang keluar dari paru-paru melalui hidung. Beberapa kata yang suku katanya dimatikan dengan konsonan “n” terdengar tidak ada. Konsonan “n” tersebut justru terdengar bergabung dengan suku kata setelahnya. Misalkan kata “gendong” hanya terdengar “ndong”; kata “kencing” terdengar “nceng”; “minta” terdengar “ntak”; kata “bunda” menjadi “nda”, dan lain-lain.

5. Berubahnya Fonem “S” menjadi “C”
Fonem “s” sering terdengar menjadi “c”, hal ini terjadi pada sebagian kata yang fonem “s” nya terletak di awal kata dan di tengah. Contoh: kata “susu” menjadi “cucu”; “satu” menjadi “catu”, dan lain-lain.


B. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Sintaksis
Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang sintaksis, diperoleh data sebagai berikut.
1. Mampu Menyebutkan Satu Kata (Holophrase) dan Frasa
Dalam pengamatan yang dilakukan, Dimas telah mampu menyebutkan berbagai macam kata, seperti: nomina, verba, adjektiva, adverbia, dan lain-lain. Dimas juga mampu mengucapkan frasa yang terdiri atas dua sampai tiga kata, seperti: “Mbah Emas” maksudnya “Simbah Dimas”; “gi awe” maksudnya “pergi begawe”, dan lain-lain.

2. Inversi Kata
Predikat sering diucapkan di awal subyek oleh Dimas. Data yang tercatat menyatakan bahwa Dimas pernah mengatakan “otong aek” (motor naik); “eek Emas” (eek Dimas); “mpak tatak Ado” (campak kakak Aldo), dan lain-lain.

3. Elipsis Fungsi Kalimat
Beberapa fungsi kalimat sering hilang atau tidak terdengar dalam ucapan Dimas. Secara dominan, fungsi predikat sering ditiadakan. Hal ini ditemukan pada ucapan “Oom awe” (Om gawe) dalam ucapan ini, tidak ditemukan predikat “pergi”; selain itu “Mbah emen” (Simbah permen) dalam hal ini tidak ditemukan predikat “beli”, dan lain-lain.

4. Mampu Menyebutkan Kalimat Tunggal
Meskipun tidak semua ucapan mampu berbentuk kalimat tunggal dengan fungsi kalimat yang kompleks, namun dari beberapa data, Dimas sudah terdengar mampu menyebutkan kata-kata yang terdiri dari tiga kata dengan fungsi subyek, predikat, dan objek dengan sempurna. Contoh: “Emas num cucu.” (Dimas minum susu.); “Atas num pi.” (Akas minum kopi.), dan lain-lain.


C. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Semantik
Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang semantik, diperoleh data sebagai berikut.
1. Menyebutkan Sesuatu Hal Berdasarkan Kata Umumnya
Sewaktu berada di kamar mandi, Dimas melihat ada ikan tempalo di dalam bak. Responsif yang dilakukan adalah mengatakan kata “tu ikan”. Secara pemaknaan, bisa jadi Dimas menginformasikan bahwa di situ ada ikan, ikan itu bergerak, dan lain-lain.
Hanya saja kata yang dirujuknya lebih bersifat umum. Ia tidak menyebutkan kata “tempalo” dengan cara pengucapannya. Sama juga ketika ada teman peneliti saat berkunjung di rumah peneliti. Dimas memanggilnya dengan kata “Oom” padahal peneliti sempat menginformasikan namanya adalah Om Ridho.

2. Mengolaborasikan Ujaran dengan Kinestetik
Ucapan Dimas kadang dapat dipahami dari gerakan yang dilakukannya untuk melengkapi ujaran yang disampaikannya. Suatu ketika, Dimas mengatakan “mama aket” (mama sakit) sambil menunjuk kakinya sendiri. Dari kinesik yang dilakukan, secara tidak langsung peneliti menangkap bahwa Dimas hendak menginormasikan bahwa kaki mamanya sakit.
Selain itu, Dimas pernah menangis saat di rumah peneliti sambil berkata “alek” (balik) dengan menunjuk ke arah rumah mamanya yang terletak di depan rumah peneliti. Dari ujaran dan kinestetik tersebut, Dimas mungkin menyampaikan maksud secara verbal dan nonverbal yaitu “Ayo pulang ke rumah mama!”

D. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Morfologi
Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang morologi, diperoleh data sebagai berikut.
1. Menyebutkan Beberapa Bentuk Kata Dasar atau Kata Asal Antara 1-2 Suku Kata
Kata dasar atau kata asal adalah kata yang belum mengalami perubahan bentuk (kata yang bentuknya masih sederhana). Ditinjau dari jumlah suku katanya, Dimas mampu memperoleh kosa kata dasar yang jumlahnya berkisaran antara satu hingga dua suku kata. Sebagai contoh satu suku kata adalah kata “mam”, “mbah”, “om”, dan lain-lain; Contoh untuk dua suku kata misalnya “ta-tak”, “mo-bing”, “pa-pa”, “a-no”, dan lain-lain;

2. Predikat Berbentuk Kata Dasar
Sangat jarang ditemukan kata afiks (kata berimbuhan) pada predikat, baik berbentuk prefiks, infiks ataupun sufiks. Dimas baru mampu menyebutkan predikat dalam bentuk kata dasar saja. Contoh: “Emas kan emen.”
Kata “memakan” disebutnya “kan” atau “makan”.

3. Mampu Menyebutkan Jenis Kata Benda, Sifat, Kerja, Keterangan, dan Seru
Kata benda (nomina) sering sekali terdengar dari ucapan Dimas. Ia mampu menyebutkan kata benda berbentuk abstrak, seperti kendaraan, hewan, dan lain-lain. Selain kata benda, ia juga mampu menyebutkan kata kerja, keterangan, dan kata seru (interjeksi).



BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Adapun simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada
bidang fonologi, diperoleh data bahwa pola fonem ujaran “konsonan-vokal” dan “vokal-
konsonan”; Mucul fonem vokal rangkap dalam satu kata; Hilangnya beberapa konsonan
hambat di awal kata; Sulit menyebutkan suku kata awal yang dimatikan dengan konsonan nasal “n”, dan berubahnya fonem “s” menjadi “c”
2. Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang sintaksis, diperoleh data bahwa mampu menyebutkan satu kata (Holophrase) dan frasa; sering menginversi kata; Terdapat elipsis fungsi kalimat, dan mampu menyebutkan kalimat tunggal
3. Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang semantik, diperoleh data bahwa dapat menyebutkan sesuatu hal berdasarkan kata umumnya, dan mengolaborasikan ujaran dengan kinestetik
4. Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada
bidang morologi, diperoleh data bahwa dapat menyebutkan beberapa bentuk kata
dasar atau kata asal antara 1-2 suku kata; Memiliki predikat berbentuk kata dasar;
Mampu menyebutkan jenis kata benda, sifat, kerja, keterangan, dan seru.

B. Saran
Bagi pembaca diharapkan dapat menggali lagi penelitian serupa, dan membaca lebih lanjut mengenai pemerolehan bahasa dari berbagai sumber untuk memperkaya pengetahuan tentang pemerolehan bahasa itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA




Lampiran:

Mengenal Lebih Dekat Muhammad Irfan Dimas

Muhammad Irfan Dimas atau Dimas merupakan Putra kedua pasangan Ibu Rina Aprina dan Bapak Muhammad Iwan. Ia dilahirkan di Palembang, 1 November 2013 yang beralamatkan di Jalan Bungaran 5 RT 14 RW 03 Kelurahan 8 Ulu Kecamatan Seberang Ulu 1 Palembang 30252. Dimas berasal dari kalangan keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Meskipun kedua orang tuanya hanya memiliki tempat usaha kecil, namun setidaknya kehidupannya dapat dikategorikan berkecukupan.
Kedua orang tua Dimas sama-sama berasal dari kota Palembang. Untuk itu, bahasa pertama yang seharusnya diperoleh Dimas adalah bahasa Palembang. Hanya saja, Dimas sering sekali diasuh dengan orang tua peneliti yang notabennya berasal dari Sleman, Yogyakarta dan OKU, Sumatera Selatan yang telah menetap di Palembang selama lima belas tahun. Jadi, selain memperoleh bahasa Palembang, Dimas juga memperoleh bahasa Jawa dan bahasa Komering.
Pada usiannya yang kedua tahun ini, peneliti melakukan penelitian terhadap pemerolehan bahasa pertama Dimas. Penelitian ini dilakukan kurang lebih selama empat bulan setelah memperoleh tugas untuk mengamati pemerolehan bahasa pada anak oleh dosen pengasuh mata kuliah Pemerolehan Bahasa Kedua pada bulan Agustus 2015 yang lalu hingga November 2015.
Penelitian dilakukan dengan cara pengamatan langsung kepada sang anak yang kemudian dicatat dalam sebuah buku. Penelitian dilakukan secara berkala, meski tidak setiap hari, namun sesekali apabila peneliti menemukan adanya kosa kata baru yang diucapkan Dimas, maka peneliti akan mencatatnya. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara dengan ibu peneliti yang kesehariannya lebih sering menghabiskan waktu berinteraksi dengan anak tersebut.

Ilmu dan Kebudayaan, oleh: Alvian Kurniawan, S.Pd.

KATA PENGANTAR

Puji syukur tercurahkan atas kehadirat Allah swt karena atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga makalah presentasi mata kuliah filsafat ilmu ini dapat diselesaikan. Makalah ini disusun untuk membahas tentang ilmu dan kebudayaan.
Terima kasih kepada Prof. Waspodo, Ph.D dan Dr. Riyanto, M.Si selaku dosen pengajar mata kuliah ini, serta semua pihak yang telah membantu memberikan memotivasi, sehingga tugas ini dapat diselesaikan.
Makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dari segi isi maupun teknik penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan makalah selanjutnya.

Palembang, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG 1
B. RUMUSAN MASALAH 2
C. TUJUAN 2

A. LATAR BELAKANG KEBUDAYAAN DAN PERKEMBANGANNYA 3

B. PERANAN DAN KARAKTERISTIK ILMU DAN ILMUWAN

C. EKSISTENSI NILAI ILMU PENDIDIKAN TERHADAP PERKEMBANGAN
KEBUDAYAAN NASIONAL

D. PERMASALAHAN APLIKASI ILMU PADA ZAMAN MODERNISASI DAN
LANGKAH-LANGKAH MENINGKATKAN PERANAN ILMU

E. PERANANAN BAHASA SEBAGAI SARANA ILMU PENGETAHUAN
TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU DAN KEBUDAYAAN

KESIMPULAN, SARAN, DAN PENUTUP 13

DAFTAR PUSTAKA 14




BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Suriasumantri, 2013: 261). Ilmu dan budaya merupakan kesatuan yang saling mempengaruhi. Dengan adanya kedua hal ini, maka dapat tercipta pengaruh peradaban hidup yang dinamis. Dinamis yang dimaksudkan adalah perubahan-perubahan yang menuju ke dalam hal yang positif. Dalam hal ini peranan ilmu sangat diperlukan. Arif (2002:107) menyatakan bahwa ilmu sebagai alat pengetahuan yang dapat menjadikan perubahan dan perbaikan manusia dari masa sekarang ke masa mendatang. Demikian pula kebudayaan yang juga berkontribusi dalam dinamika perkembangan, sebab budaya dihasilkan dari suatu karya, cipta, dan karsa seseorang yang dapat memperkaya eksistansi kehidupan peradaban.
Eksistansi ilmu dan kebudayaan pada masa kini terus dikembangkan. Namun, permasalahan yang terjadi ialah tidak adanya keseimbangan pengembangan dari kedua hal tersebut. Para ilmuwan terus mengontruksi perkembangan ilmu yang dimiliki dengan memuat kemajuan teknologi. Namun, seiring perkembangan teknologi, justru mengalihkan perhatian manusia dengan menyampingkan perkembangan kebudayaan. Selain itu, teknologi mengubah sistem komunikasi menjadi bersifat praktis, langsung dan individual, tanpa melihat sensor nilai-nilai sosio-kultural dan sosio-religius yang hidup di suatu peradaban (Suhartono, 2005:176), Sehingga paradigma mengenai keberadaan ilmu dan kebudayaan seolah menjadi batasan ruang lingkup yang jauh dari dua objek tersebut.
Hal yang seharusnya dilakukan agar ketidakselarasan ini tidak terjadi ialah dengan menumbuhkan keyakinan bahwa tanpa adanya ilmu dan kebudayaan yang sejalan, maka kedinamisan itu akan terhambat. Di sinilah seharusnya dunia pendidikan mampu melihat permasalahan ini sebagai bentuk masalah global yang harus segera diselesaikan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh dunia pendidikan ialah dengan memberikan pengetahuan kepada peserta didik dengan pengetahuan yang berbasis pada perkembangan ilmu dan budaya.



B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang dibahas pada makalah ini ialah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah latar belakang budaya dan perkembangannya?
2. Bagaimanakah peranan dan karakteristik ilmu dan keilmuwan?
3. Bagaimanakah eksistensi nilai ilmu pendidikan terhadap perkembangan
kebudayaan nasional?
4. Bagaimanakah permasalahan aplikasi ilmu pada zaman modernisasi dan
langkah-langkah meningkatkan peranan ilmu?
5. Bagaimanakah perananan pengajaran bahasa dan sastra indonesia terhadap
perkembangan ilmu dan kebudayaan?

C. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah untuk:
1. menjelaskan latar belakang budaya dan perkembangannya;
2. memaparkan peranan dan karakteristik ilmu dan keilmuwan;
3. menerangkan eksistensi nilai ilmu pendidikan terhadap perkembangan kebudayaan
nasional;
4. membahas permasalahan aplikasi ilmu pada zaman modernisasi dan langkah-langkah
meningkatkan peranan ilmu;
5. memaparkan peranan pengajaran bahasa dan sastra indonesia terhadap
perkembangan ilmu dan kebudayaan.




BAB II
PEMBAHASAN

A. LATAR BELAKANG KEBUDAYAAN DAN PERKEMBANGANNYA
Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddayah yang artinya dalam bentuk jamak yaitu buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan atau bisa diartikan juga sebagai kegiatan mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia, Ihsan (dikutip Balkis, 2012). Dengan demikian, kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah”. Selain itu, menurut Taylor (dalam Suriasumatri, 2013:261) menyatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang di dapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Sama halnya dengan pendapat Jacobs dan Stern (dikutip Muhammad, 2012) yang menyatakan bahwa kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian, serta benda yang kesemuanya merupakan warisan sosial. Ditambahkan pula oleh Koentjaraningrat (dikutip Muhammad, 2012) yang menyatakan, “Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan pelajar”. Selain itu, Kupper (dikutip Muhammad, 2012) menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok. Ditambahkan oleh Haviland (dikutip Muhammad, 2012) yang menjelaskan bahwa kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh semua masyarakat. Dewantara (dikutip Muhammad, 2012) menambahkan bahwa kebudayaan berarti buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan mengandung kompleksitas nilai-nilai kehidupan positif yang layak dan mampu diterima oleh akal budi manusia. Dalam hal ini, kebudayaan dapat dikatakan perlu untuk kepentingan pergaulan dalam masyarakat setempat.
Suriasumatri (2013:261) menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang banyak dalam hidupnya. Karena banyaknya kebutuhan itulah yang menyebabkan manusia harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan itu. Ashley Montagu (dalam Suriasumatri, 2013:261) menyatakan bahwa kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Oleh sebab itu, manusia akan berpaling kepada kebudayaan yang mengajarkan manusia tentang cara hidup.
Sehubungan dengan pendapat yang menjelaskan kebutuhan yang akan memalingkan manusia kepada kebudayaan, maka Maslow (dalam Suryasumatri, 2013:262) mengelompokan kebutuhan manusia menjadi lima jenis, yaitu: kebutuhan fisiologi, kebutuhan rasa aman, kebutuhan afiliasi, kebutuhan harga diri, dan pengembangan potensi.
Pada hakikatnya, menurut Mavies dan John Biesanz (dalam Surasumatri, 2013:262) menyatakan “Kebudayaan merupakan alat penyelamatan (survival kit) kemanusiaan di muka bumi ini”. Maksudnya, manusia memiliki beragam keterbatasan, salah satu keterbatasan itu ialah manusia tidak selalu bisa mempergunakan instingnya dalam bertindak. Ketidakmampuan manusia untuk bertindak instingtif ini harus diimbangi oleh kemampuan lain, yakni kemampuan untuk belajar, berkomunikasi, dan menguasai obyek-obyek yang bersifat fisik. Kemampuan belajar ini dimungkinkan oleh berkembangnya inteligensi dan berpikir simbolik. Terlebih lagi manusia mempunyai budi yang merupakan pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan, pikiran, dan budi. Semua kandungan inilah yang menyebabkan manusia akan berkembang.
Kuntja¬raningrat (dalam Suriasumantri, 2013:261) secara lebih terperinci membagi kebudayaan menjadi unsur-unsur yang terdiri dari sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahu-an, bahasa, ke¬senian, sistem mata pencaharian serta sistem teknologi dan peralatan.
Dari semua unsur kebudayaan tersebut, semuanya sangat erat hubungannya dengan pendidikan. Sebab, semua materi yang terkandung dalam suatu kebudayaan diperoleh manusia secara sadar lewat proses belajar yang diteruskan kepada kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi selanjutnya. Dengan demikian, kebudayaan dapat diteruskan dari waktu ke waktu. Kebudayaan yang berlalu akan bereksistensi pada masa kini; dan kebudayaan masa kini akan disampaikan ke masa yang akan datang. Atau menurut Alfred Korzybski, kebudayaan mempunyai kemampuan mengikat waktu.

B. PERANAN DAN KARAKTERISTIK ILMU DAN ILMUWAN
Balkis (2012) mengemukakan bahwa banyak sumber dan pakar yang berusaha mendefinisikan pengertian ilmu, diantaranya: Rahayu berpendapat bahwa ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan berlaku umum; Kuhn berpendapat bahwa ilmu adalah himpunan aktivitas yang menghasilkan banyak penemuan, baik dalam bentuk penolakan maupun pengembangannya; Bucaille berpendapat bahwa ilmu adalah kunci untuk mengungkapkan segala hal, baik dalam jangka waktu yang lama maupun sebentar; Popper berpendapat bahwa ilmu adalah tetap dalam keseluruhan dan hanya mungkin direorganisasi; Poespoprodjo berpendapat bahwa ilmu adalah proses perbaikan diri secara bersinambungan yang meliputi perkembangan teori dan uji empiris; Taufiq berpendapat bahwa ilmu adalah penelusuran data atau informasi melalui pengamatan, pengkajian dan eksperimen dengan tujuan menetapkan hakikat, landasan dasar ataupun asal usulnya; Singer berpendapat bahwa ilmu adalah suatu proses yang membuat pengetahuan (science is the process which makes knowledge); Asmadi berpendapat bahwa ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang padat dan proses mengetahui melalui penyelidikan yang sistematis dan terkendali (metode ilmiah); Gade berpendapat bahwa ilmu adalah falsafah, yaitu hasil pemikiran tentang batas-batas kemungkinan pengetahuan manusia; Bacon berpendapat bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid dan hanya fakta-fakta yang dapat menjadi objek pengetahuan.
Berdasarkan pengertian dari para pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah sekumpulan pengetahuan yang menjadi kunci untuk mengungkapkan sesuatu hal secara berkesinambungan melalui proses perbaikan diri berdasarkan perkembangan teori dan uji empiris.
Night (diterjemahkan Arif, 2012:86) menyatakan peranan ilmu adalah sebagai suatu cara berpikir, yaitu ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Berpikir bukan satu-satunya cara dalam mendapatkan pengetahuan, demikian juga ilmu bukan satu-satunya produk dari kegiatan berpikir. Ilmu merupakan produk dari hasil proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah merupakan proses berpikir atau pengembangan pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah ada. Selain itu, ilmu juga berperan sebagai asas moral, yaitu dari awal perkembangan ilmu selalu dikaitkan dengan masalah moral. Copernicus (1473-1543) yang menyatakan bumi berputar mengelilingi matahari yang kemudian diperkuat oleh Galileo (1564-1642) yang menyatakan bumi bukan merupakan pusat tata surya yang akhirnya harus berakhir di pengadilan inkuisisi. Kondisi ini selama 2 abad mempengaruhi proses perkembangan berpikir di Eropa. Moral reasioning adalah proses di mana tingkah laku manusia, institusi atau kebijakan dinilai apakah sesuai atau menyalahi standar moral. Kriterianya dari moral reasioning ini diantaranya, yaitu logis adalah bukti nyata yang digunakan untuk mendukung penilaian haruslah tepat dan konsisten dengan lainnya.
(Suriasumantri, 2013:274) menyatakan bahwa dua karakteristik yang merupakan asas moral bagi ilmuan antara lain meninggikan kebenaraan, yang berarti ilmu sebagai kegiatan berpikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar atau secara lebih sederhana. Kriteria kebenaran ini pada hakikatnya bersifat otonom dan terbebas dari struktur kekuasaan di luar bidang keilmuan. Ini artinya, untuk mendapatkan suatu pernyataan benar atau salah seorang ilmuwan harus terbebas dari intervensi pihak lain di luar bidang keilmuan. Selain itu, ilmu juga sebagai pengabdian secara universal, maksudnya seorang ilmuan tidak mengabdi pada golongan tertentu, penguasa, partai politik ataupun yang lainnya. Akan tetapi, seorang ilmuan harus mengabdi untuk kepentingan khalayak ramai. Maksudnya, dapat kita ketahui bahwa ilmu yang merupakan kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar haruslah terlepas dari pengaruh asing di luar bidang keilmuan (bebas nilai) dan harus memiliki manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas, bukan golongan tertentu. Namun dalam hal ini, para ilmuan dalam rangka untuk melakukan penelitian tidak dapat terlepas dari nilai-nilai ilahiyah, norma yang berlaku dalam masyarakat dan kondisi budaya agar hasil dari penelitian tersebut tidak mendatangkan kerusakan yang berakibat fatal, baik bagi manusia itu sendiri maupun alam semesata.


C. EKSISTENSI NILAI ILMU PENDIDIKAN TERHADAP PERKEMBANGAN
KEBUDAYAAN NASIONAL
Allport, Vernon dan Lindzey (dalam Suriasumantri, 2013:263) mengidentifikasi enam nilai dasar dalam kebudayaan, yaitu: nilai teori, ekonomi, estetika, sosial, politik, dan agama. Berdasarkan penggolongan tersebut, maka masalah pertama yang dihadapi oleh pendidikan ialah menetapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak kita. Sebab, di sinilah peranan pendidikan yang sebagaimana mestinya membantu anak didik untuk mengembangkan pikiran, kepribadian, dan kemampuan fisiknya. Pendidikan harus mengorientasikan agar setiap waktu untuk mengkaji kembali masalah tersebut. Hal demikian harus dilakukan karena dua hal, yaitu: kerelevanan nilai-nilai yang dikembangkan dalam diri anak didik sesuai dengan kurun zaman di mana anak itu akan hidup kelak; Sebagai usaha pendidikan yang sadar dan sistematis mengharuskan kita untuk lebih eksplisit dan definitif tentang hakikat nilai-nilai budaya tersebut. Nilai-nilai ilmiah yang terpancar dari hakikat keilmuan, yakni: kritis, rasional, logis, obyektif, terbuka, menjunjung kebenaran, dan pengabdian universal (Suriasumantri, 2013:275).
Pengembangan kebudayaan nasional pada hakikatnya adalah perubahan dari kebudayaan yang sekarang bersifat konvensional ke arah situasi kebudayaan yang lebih mencerminkan aspirasi tujuan nasional. Dalam pengembangan kebudayaan nasional, ada beberapa hal yang diperlukan, seperti: nilai kritis, rasional, logis, objektif, terbuka, menjunjung kebenaran dan mengabdi secara nasional. Semua hal tersebut sangat diperlukan dalam upaya menghadapi dunia modernisasi seperti sekarang ini. Selain itu, diperlukan cara-cara yang terkandung dalam nilai-nilai ilmiah.
Talcot Parsons (dalam Suriasumantri, 2013:272) menyatakan bahwa ilmu dan kebudayaan saling mendukung satu sama lain. Dalam beberapa tipe masyarakat ilmu dapat berkembang dengan pesat. Demikian pula sebaliknya, masyarakat tersebut tak dapat berfungsi dengan wajar tanpa didukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan penerapan. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi. Pada satu pihak, perkembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaan. Sedangkan di pihak lain, pengembangan ilmu akan memengaruhi jalannya kebudayaan.
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara. Dalam kerangka pengembangan kebudayaan nasional, ilmu mempunyai peranan ganda, yaitu: ilmu sebagai sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembang-an kebudayaan nasional, dan ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa (Suriasumantri, 2013:272).

D. PERMASALAHAN APLIKASI ILMU PADA ZAMAN MODERNISASI DAN
LANGKAH-LANGKAH MENINGKATKAN PERANAN ILMU
Dalam perkembangan zaman yang begitu cepat, terkadang ilmu dikaitkan dengan teknologi. Kebudayaan kita tak terlepas dari teknologi. Namun sayangnya, yang memiliki pengaruh yang dominan pada kebudayaan adalah teknologi, padahal teknologi adalah buah atau produk kegiatan ilmiah, sedangkan ilmu sendiri yang merupakan sumber nilai yang konstruktif dan memiliki ruang yang sempit dalam pengembangan kebudayaan nasional.
Dalam hal ini, pemahaman terhadap hakikat ilmu perlu dijadikan fokus pembicaraan dalam rangka untuk mengembangkan kebudayaan nasional. Setelah itu, baru dibahas mengenai langkah-langkah apa yang akan ditempuh untuk meningkatkan peranan keilmuan dalam pengembangan kebudayaan nasional.
Berdasarkan pada uraian-uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ilmu memiliki peran dalam mendukung perkembangan kebudayaan nasional. Maka dalam hal ini, diperlukan langkah-langkah yang sistemik dan sistematik untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan dalam perkembangan kebudayaan nasional yang pada dasarnya mengandung beberapa pemikiran seperti yang dikemukakan Suriasumantri (2013:278), antara lain sebagai berikut.
1. Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan, dan oleh sebab itu langkah-langkah ke arah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan masyarakat kita.
2. Ilmu merupakan salah satu cara menemukan kebenaran, di samping itu masih terdapat cara-cara lain yang sah sesuai dengan lingkup pendekatan dan permasalahannya masing-masing. Pendewaan terhadap akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran harus dihindarkan.
3. Meninggikan integritas ilmuan dan lembaga. Dalam hal ini modus operandinya adalah
melaksanakan dengan konsekuen kaidah moral dari keilmuan.
4. Pendidikan keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral.
5. Pengembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang
filsafat terutama yang menyangkut keilmuan.
6. Kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur
kekuasaan.

E. PERANANAN BAHASA SEBAGAI SARANA ILMU PENGETAHUAN
TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU DAN KEBUDAYAAN
Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas bahwa bahasa termasuk sarana berpikir ilmiah. Artinya, bahasa dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memecahkan sebuah masalah, salah satunya adalah mengenai cara mengembangkan ilmu dan pengetahuan. Suriasumantri (2013:171) menyatakan bahwa tanpa kemampuan berbahasa, maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa mempunyai bahasa, maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu ke generasi selanjutnya.
Dengan bahasa, kita dapat mengomunikasi pengetahuan kita kepada orang lain. Hal ini jelas menyumbang pemikiran terhadap perkembangan ilmu dan kebudayaan. Sebagai contoh: belajar dan mengajar di sekolah merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan ilmu dan kebudayaan. Dalam dunia belajar dan mengajar, banyak buah pemikiran, ide, informasi yang dikomunikasikan melalui bahasa.
Jika dikaitkan dalam bidang studi bahasa dan sastra Indonesia, serangkaian materi mengenai seni sastra, seperti: puisi, cerita rakyat, drama, dan lain-lain, dapat kita pelajari dengan bahasa. Saat mempelajari seni-seni sastra tersebut, secara tidak langsung kegiatan pengembangan ilmu dan kebudayaan nasional pun juga berjalan seiring pola pemikiran manusia.
Selain itu, dari pengembangan kurikulum bahasa Indonesia. Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia pada kurikulum 2013 menekankan pada pengajaran berbasis teks. Dalam hal ini, banyak materi berbasis teks yang dapat dihubungkan dengan perkembangan ilmu dan budaya. Dalam pengajaran, pendidik, dapat memilih bahan teks ajar yang membahas tentang ilmu dan kebudayaan. Lalu, teks tersebut dikolaborasikan dengan kegiatan belajar lainnya.
Tabel berikut ini memuat contoh kegiatan pemberdayaan teks pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang dapat dikolaborasikan dengan hal-hal yang dapat meningkatkan perkembangan ilmu dan pendidikan siswa di Sekolah Menengah Pertama.


Tabel 2.1
Contoh Pemberdayaan Teks Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Kurikulum 2013 dengan Upaya Mengembangkan Ilmu dan Kebudayaan pada Tingkat SMP


1. Teks Hasil Observasi
Guru meminta peserta didik untuk mencari dan membaca artikel, lalu melakukan pengamatan tentang kesenian wayang Palembang, dan dilapor-kan melalui kegiatan me-nulis laporan hasil obser-vasi.

2. Teks Tanggapan Deskriptif
Guru mengintruksikan pe-serta didik untuk menyak-sikan tayangan “Jejak Petualang” di televisi, lalu diminta untuk menuliskan teks tanggapan deskriptif dan mengomunikasikannya di depan kelas.

3. Teks Eksposisi
Guru mengintruksikan pe-serta didik untuk mem-baca artikel tentang ke-senian “Dul Muluk” lalu diminta untuk mengem-bangkan dan mengomu-nikasikan dalam bentuk teks eksposisi.

4. Teks Eksplanansi
Guru meminta peserta didik untuk membaca fenomena alam yang terjadi, lalu mereleksikan ke dalam kehidupan para budayawan yang menjadi korban.

5. Teks Cerita Pendek
Guru meminta peserta didik untuk mewawancarai tukang penenun songket, lalu memintanya membuat sebuah cerita pendek yang berhubungan dengan hasil wawancaranya tersebut.



BAB III
KESIMPULAN, SARAN, DAN PENUTUP

A. KESIMPULAN
Latar belakang munculnya budaya karena kebutuhan manusia itu sendiri, namun manusia memiliki banyak kekurangan untuk memenuhi semua kebutuhan itu, sehingga dibutuhkan pendidikan untuk dapat terus mengembangkan kebudayaan itu. Night (diterjemahkan Arif, 2012:86) menyatakan peranan ilmu adalah sebagai suatu cara berpikir, yaitu ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Peranan ilmu pun sebagai dasar berfikir dan asas moral, sehingga dibutuhkan ilmuwan-ilmuwan yang berkarakter selalu meningkatkan kebenaran, dan menjunjung tinggi pengabdian secara universal. Kebudayaan mengidentifikasi enam nilai dasar, yaitu: nilai teori, ekonomi, estetika, sosial, politik, dan agama. Semua nilai tersebut dapat ditanamkan pada diri anak bangsa dengan ilmu pendidikan. Namun sayangnya, pengaplikasian ilmu dengan mempertinggi teknologi pada masa modernisasi seperti sekarang sering menyebabkan kebudayaan terabaikan. Seiring perkembangan teknologi, justru mengalihkan perhatian manusia dengan menyampingkan perkembangan kebudayaan. Selain itu, teknologi mengubah sistem komunikasi menjadi bersifat praktis, langsung dan individual, tanpa melihat sensor nilai-nilai sosio-kultural dan sosio-religius yang hidup di suatu peradaban (Suhartono, 2005:176). Sehingga, diperlukan langkah-langkah peranan ilmu dalam upaya mengembangkan kebudayaan. Untuk itu peranan bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah sangat diperlukan. Suriasumantri (2013:171) menyatakan bahwa tanpa kemampuan berbahasa, maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa mempunyai bahasa, maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu ke generasi selanjutnya. Untuk itu dalam upaya mengembangkan ilmu dan kebudayaan melalui pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, pelajar dapat mempelajari serangkaian materi mengenai seni sastra, seperti: puisi, cerita rakyat, drama, dan lain-lain. Saat mempelajari seni-seni sastra tersebut, secara tidak langsung kegiatan pengembangan ilmu dan kebudayaan nasional pun juga berjalan seiring pola pemikiran manusia. Selain itu, dapat pula dilakukan dengan cara menghubungkan pelajaran berbasis teks pada kurikulum 2013 dengan pengetahuan tentang kebudayaan.



B. SARAN
Untuk mengembangkan peranan ilmu dan kebudayaan, perlu adanya kesadaran dalam diri sendiri yang dapat dikolaborasikan dengan pengajaran.

C. PENUTUP
Demikian makalah ini dibuat, semoga bermanfaat.




DAFTAR PUSTAKA

Bakhtial, Amsal. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Balkis, Emil. 2012. Perkembangan Ilmu dan Kebudayaan Nasional.(https://emilbalkis.Word
press.com/tugas/perkembangan-ilmu-dan-kebudayaan-nasional/). Diakses 30 September 2015.

Knight, George R. 1962. Filsafat Pendidikan Terjemahan Mahmud Arif. 2012. Yogya-
karta: Gama Media.

Muhammad, Nikma. 2012. Makalah Filsafat Ilmu. (http://nikmamuhammadjds.blogspot.
co.id/2012/11/makalah-filsafat-ilmu.html). Diakses tanggal 30 September 2015.

Mulyawan, Tyo. 2013. Ilmu dan Kebudayaan. (https://tyomulyawan.wordpress.)com/
ilmu -dan-budaya/). Diakses tanggal 30 September 2015.

Mustansyir, Rizal dan Misnal Munir. 2013. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Suhartono, Suparlan. 2005. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jogjakarta: Ar-Ruzz.

Suriasumantri, Jujun S. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Wicaksono, Dirgantara. 2014. Ilmu dan Kebudayaan. (http://dirgantarawicaksono.blog
spot . co.id/2013/04/ilmu-dan-kebudayaan.html). Diakses 30 September 2015.















Studi Kepustakaan atau Landasan Teori oleh Alvian Kurniawan, S.Pd.

MAKALAH PRESENTASI
STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI



Disusun Oleh:
Nama Mahasiswa : Alvian Kurniawan
Nomor Induk Mahasiswa : 06012681519029
Kelas/Semester : I/Ganjil
Nama Mata Kuliah : Metode Penelitian
Dosen Pengasuh : Dr. Subadiyono, M.Pd.
Dr. Didi Suhendi, S.Pd., M.Hum.


Bidang Kajian Umum Pendidikan Bahasa Indonesia
Program Studi Magister Pendidikan Bahasa
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sriwijaya
2015



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena atas ragmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah presentasi dengan judul, “Studi Kepustakaan/Landasan Teori”. Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah metodologi penelitian.
Penulis menghaturkan ucapan terima kasih kepada: Dr. Subadiyono, M.Pd dan Dr. Didi Suhendi, S.Pd., M.Hum., selaku dosen pembimbing mata kuliah ini; serta semua pihak yang telah membantu, memberi inspirasi, dan memotivasi, sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas mata kuliah ini.
Penulis menyadari bahwa di dalam penulisan dan penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dari segi isi maupun teknik penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna penyempurnaan untuk makalah selanjutnya.

Palembang, September 2015

Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...........................................................................
KATA PENGANTAR .......................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................. ii

PENDAHULUAN ............................................................................
A. LATAR BELAKANG .......................................................................
B. RUMUSAN MASALAH ....................................................................
C. TUJUAN ..................................................................................

A. RASIONALISASI STUDI KEPUSTAKAAN ..............................................
1. DEFINISI RASIONALISASI DAN IMPLEMETASI TEORI .................................
2. DEFINISI STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI .................................
3. MANFAAT PENYUSUNAN STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI ............... . JENIS-JENIS STUDI KEPUSTAKAAN .......................................................

B. MACAM-MACAM SUMBER INFORMASI ..............................................
1. PERANAN SUMBER INFORMASI DAN TEMPAT MEMPEROLEHNYA...................
2. HUBUNGAN ENTAILMEN DAN CONTOHNYA ..........................................
3. SUMBER-SUMBER INFORMASI ..........................................................
4. CARA MEMPEROLEH SUMBER INFORMASI YANG RELEVAN .........................

C. ISI STUDI KASUS STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI.......................
1. PERBEDAAN ISI STUDI KEPUSTAKAAN DENGAN TELAAH KEPUSTAKAAN ..........
2. HAL-HAL YANG TERDAPAT DALAM STUDI KEPUSTAKAAN ...........................
3. SYARAT ISI STUDI KEPUSTAKAAN .......................................................

D. MENGORGANISASI SUBSTANSI KAJIAN KEPUSTAKAAN ............................
1. PROSEDUR KERJA PENGORGANISASIAN .................................................
2. LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN KAJIAN PUSTAKA ....................................

KESIMPULAN, SARAN, DAN PENUTUP ....................................................
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................
LAMPIRAN .....................................................................................







BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Teori dan penelitian merupakan dua hal yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Selama penelitian berlangsung, di sanalah kefaedahan teori akan terus diperlukan. Sebab, teori sangat menunjang dalam hadirnya sebuah temuan-temuan baru dalam penelitian.
Dalam hal menghadirkan suatu karya ilmiah yang memiliki bobot tinggi, khususnya yang terkait dengan penelitian, maka di sinilah diperlukan pentingnya landasan teori sebagai rujukan dalam melakukan sebuah penelitian. Seorang peneliti akan merasa terbantu dengan adanya teori, karena hal tersebut akan menjadi titik acuan dalam proses penelitiannya. Sehingga, dengan adanya referensi tersebut maka penelitian yang dilakukan bukan hal coba-coba yang pada ujungnya menghasilkan kekeliruan atau lazimnya lebih dikenal dengan istilah trial and error.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menganggap perlu untuk menyusun makalah yang berjudul, “Studi Kepustakaan/Landasan Teori” guna melihat semua peranan studi kepustakaan/landasan teori dalam penelitian.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana rasionalisasi studi kepustakaan/landasan teori?
2. Apa sajakah sumber informasi studi kepustakaan/landasan teori?
3. Bagaimanakah isi studi kepustakaan/landasan teori?
4. Bagaimanakah mengorganisasi substansi studi kepustakaan/Landasan teori?

C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun manfaat dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk memaparkan rasionalisasi studi kepustakaan/landasan teori?
2. Untuk menjelaskan sumber informasi studi kepustakaan/landasan teori?
3. Untuk mengulas isi studi kepustakaan/landasan teori?
4. Untuk mengeksposisikan organisasi substansi studi kepustakaan/Landasan teori?



BAB II
PEMBAHASAN
STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI

A. RASIONALISASI STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI
1. DEFINISI RASIONALISASI DAN IMPLEMENTASI TEORI
Sebelum membahas studi kepustakaan/landasan teori lebih lanjut, di sini akan dibahas mengenai rasionalisasi dan implementasi teori. Rasionalisasi dapat diartikan sebagai proses atau cara menjadikan sesuatu yang tidak rasional menjadi rasional. Dalam hal ini, terutama pada dunia penelitian, rasionalisasi penemuan akan teruji kerasioanalannya apabila susuai antara hasil dan teori. Banyak definisi yang menjelaskan tentang teori. Seperti yang dikemukakan oleh Wiersma (dikutip Sugiyono, 2012:80) yang menyatakan bahwa teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematis. Selain itu, Cooper dan Schinder (dikutip Sugiyono, 2012:80) yang menyatakan, “Teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis, sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena”.
Dari kedua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa teori adalah seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang telah digeneralisasikan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematis. Teori-teori ini sangat diperlukan dalam sebuah penelitian. Hal ini juga dinyatakan oleh Kunandar (2008:119) yang menyatakan bahwa teori relevan dapat dipergunakan untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti, sebagai dasar untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan (hipotesis) serta penyusunan instrumen penelitian.

2. DEFINISI STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI
Teori relevan yang dimaksudkan pada pembahasan di atas, dalam dunia penelitian disebut landasan teori/ studi kepustakaan/ kajian pustaka/ tinjauan pustaka/ kajian teoretis/ tinjauan teoretis. Menurut Burhanudin (2013) “Studi kepustakaan/landasan teori adalah teori yang relevan yang digunakan untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti, dan sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan (hipotesis), dan penyusunan instrumen penelitian”. Ditambahkan pula dari pendapat Arif (2010) yang menyatakan bahwa studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa studi kepustakaan/landasan teori ialah teori yang relevan yang digunakan untuk menjelaskan suatu variabel yang akan diteliti sebagai usaha untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Dengan kata lain, selama penelitian, peneliti akan melakukan studi kepustakaan, baik sebelum maupun selama dia melakukan penelitian tersebut.

3. MANFAAT PENYUSUNAN STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI
Banyak manfaat dalam penyusunan studi kepustakaan/landasan teori. Adapun manfaat Studi kepustakaan/landasan teori tersebut adalah sebagai berikut.
 Menyediakan kerangka konsepsi atau teori untuk penelitian yang direncanakan;
 Menyediakan informasi tentang penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan;
 Menjadikan landasan teori yang merupakan pedoman bagi pendekatan pemecahan masalah dan pemikiran untuk perumusan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian;
 Memberi rasa percaya diri bagi peneliti, karena melalui kajian pustaka semua konstruksi yang berhubungan dengan penelitian telah tersedia;
 Memberi informasi tentang metode-metode, populasi dan sampel, instrumen, dan analisis data yang digunakan pada penelitian yang dilakukan sebelumnya;
 Membuat uraian teoritik dan empirik yang berkaitan dengan faktor, indikator, variabel dan parameter penelitian yang tercermin di dalam masalah-masalah yang ingin dipecahkan;
 Memperdalam pengetahuan peneliti tentang masalah dan bidang yang akan diteliti;
 Memanfaatkan informasi dari suatu makalah yang diperlukan bagi penelitiannya, terutama yang terkait dengan objek dan atau sasaran penelitiannya. Sekurang-kurangnya peneliti dapat menyadap tujuan, data dan metode, analisis dan hasil utama penelitian;
 Menyediakan temuan, kesimpulan penelitian yang dihubungkan dengan penemuan dan kesimpulan kita;
 Mendapat informasi tentang aspek-aspek mana dari suatu masalah yang sudah pernah diteliti untuk menghindari agar tidak meneliti hal yang sama.

4. JENIS-JENIS STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI
Studi kepustakaan/landasan teori jika ditinjau dari sumbernya dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut.
 Kepustakaan/landasan konseptual
Kepustakaan/landasan konseptual meliputi konsep-konsep atau teori-teori yang ada pada buku-buku, dan artikel yang ditulis oleh para ahli yang dalam penyampaiannya sangat ditentukan oleh ide-ide atau pengalaman para ahli tersebut.

 Kepustakaan/landasan penelitian
Kepustakaan/landasan penelitian meliputi laporan penelitian yang telah diterbitkan baik pada jurnal maupun majalah ilmiah.
Bagi para pemula disarankan untuk menggunakan studi kepustakaan/landasan teori yang berasal dari kepustakaan/landasan konseptual, untuk lebih memudahkan dalam merangkum dan mengategorikan teori sesuai dengan kebutuhan pada saat akan membuat kerangka konseptual.

B. MACAM-MACAM SUMBER INFORMASI
1. PERANAN SUMBER INFORMASI DAN TEMPAT MEMPEROLEHNYA
Telah kita ketahui bahwa studi kepustakaan ialah teori yang relevan yang digunakan untuk menjelaskan suatu variabel yang akan diteliti sebagai usaha untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Keberadaan Studi kepustakaan juga tidak dapat dipisahkan dari suatu penelitian. Sebab dengan adanya studi kepustakaan, teori-teori yang mendasari masalah dan bidang yang akan diteliti dapat ditemukan. Selain itu, adanya studi kepustakaan dapat membantu seorang peneliti untuk memperoleh informasi tentang penelitian-penelitian sejenis atau yang ada kaitannya dengan penelitiannya, dan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Dalam hal ini, peneliti dapat memanfaatkan semua informasi dan pemikiran-pemikiran yang relevan dengan penelitiannya.
Untuk menyusun studi kepustakaan, perpustakaan merupakan suatu tempat yang tepat guna memperoleh bahan-bahan dan informasi yang relevan untuk dikumpulkan, dibaca dan dikaji, dicatat dan dimanfaatkan. Seorang peneliti hendaknya mengenal atau tidak merasa asing di lingkungan perpustakaan, sebab dengan mengenal situasi perpustakaan, peneliti akan dengan mudah menemukan apa yang diperlukan. Untuk mendapatkan informasi yang diperlukan, peneliti harus mengetahui sumber-sumber informasi tersebut.

2. SUMBER-SUMBER INFORMASI
Sumber-sumber informasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: sumber primer, dan sumber sekunder, seperti yang terdapat pada penjelasan berikut.
 Sumber primer (primary source)
yaitu karangan asli yang ditulis oleh seseorang yang melihat, mengalami atau mengerjakannya sendiri, seperti: laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, jurnal, dan lain-lain.

 Sumber sekunder (secondary source)
yaitu tulisan tentang penelitian orang lain, tinjauan, ringkasan, kritikan, dan tulisan-tulisan serupa mengenai hal-hal yang tidak langsungdisaksikan atau dialami sendiri oleh penulis. Bahan kepustakaan sekunder terdapat pada peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, buku-buku tahunan, buku-buku pedoman (ilmiah), buku-buku petunjuk, buku referensi khusus dan umum, ensiklopedia, abstrak, indeks, text book, dan sumber-sumber tertulis baik cetak maupun elektronik lain.

3. CARA MEMILIH SUMBER YANG RELEVAN
Melalui sumber-sumber penelitian yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, peneliti akan memeroleh informasi dan sumber yang tepat dalam waktu yang singkat. Namun, dalam melaksanakan kegiatan studi kepustakaan, sebaiknya digunakan sumber kepustakaan primer yang informasinya lebih otentik. Namun bahan kepustakaan primer yang relevan dengan masalah peneliti tidak selalu ada, atau karena waktu yang terbatas sulit untuk diperoleh. Bila hal ini terjadi, peneliti terpaksa menggunakan bahan kepustakaan sekunder. Untuk itu, perlu dipertimbangkan adanya bias dari penulisnya, sebab informasi ini tidak berasal dari sumbernya langsung.
Beberapa sumber kepustakaan yang biasanya ada di perpustakaan perguruan tinggi adalah sebagai berikut.
 Ensiklopedi yang memuat sumber referensi yang lengkap. Bila akan mencari informasi tentang suatu topik tertentu, peneliti dapat membaca ensiklopedi umum (general encyclopedia), sedangkan untuk yang lebih khusus dapat dicari dalam subject encyclopedia;
 Buku-buku teks dan referensi yang berisikan pengetahuan tentang berbagai bidang studi;
 Direktori dan buku pegangan yang memuat alamat dan data lainnya serta pedoman untuk mengerjakan sesuatu;
 Laporan hasil-hasil penelitian yang merupakan hasil penelitian baru atau merupakan kelanjutan penelitian sebelumnya;
 Tesis, skripsi dan disertasi yang merupakan karya tulis yang biasanya berkaitan dengan suatu penelitian atau penemuan baru;
 Abstrak yang memuat ringkasan karangan, tesis, dan disertasi;
 Majalah, jurnal dan surat kabar yang memuat artikel-artikel yang relevan dengan masalah;
 Biografi yang memuat data perorangan antara lain nama, tempat dan tanggal lahir, pendidikan, dan sebagainya;
 Indeks yang memuat daftar karya tulis yang disusun secara alfabetis.
Selain informasi yang diperoleh dari berbagai sumber di perpustakaan, peneliti dapat pula memperoleh bahan kepustakaan dari instansi atau lembaga tertentu, misalnya LIPI dengan beberapa lembaganya antara lain PDII (Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah), LEKNAS(Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional), dan Biro Pusat Statistik yang merupakan pusat informasi statistik nasional.

C. ISI STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI
1. PERBEDAAN ISI STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI DENGAN TELAAH
PUSTAKA
Jika ditinjau dari isinya, terjadi perbedaan antara istilah studi kepustakaan/landasan teori dengan telaah Pustaka. Dalam studi kepustakaan, peneliti mengumpulkan teori/data/informasi yang menjadi dasar identifikasi, penjelasan, dan pembahasan masalah penelitian.
Dalam telaah pustaka selain mengumpulkan teori, peneliti menambahkan komentar, kritik (kelebihan dan atau kekurangan teori dalam pustaka), perbandingan dengan teori (pustaka) lain, kaitannya dengan penelitian yang sedang dilakukan.Teori dalam tinjauan pustaka yang digunakan bukan sekedar pendapat dari pengarang atau pendapat lain, tetapi teori yang benar-benar telah teruji kebenarannya.

2.HAL-HAL YANG TERDAPAT DALAM STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI
Dalam studi kepustakaan/landasan teori ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan harus terdapat di dalamnya, yaitu sebagai berikut.
 Nama pencetus teori;
 Tahun dan tempat pertama kali;
 Uraian ilmiah teori;
 Relevansi teori tersebut dengan upaya peneliti untuk mencapai tujuan atau target penelitian.


3. SYARAT ISI STUDI KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI
Pedoman untuk pemilihan daftar pustaka dan hal ini dapat menjadikan syarat isi studi kepustakaan yang baik, yaitu: relevansi, kemutakhiran, dan adukuasi, seperti pada penjelasan berikut.
 Relevansi adalah keterkaitan atau kegayutan yang erat dengan masalah penelitian;
 Kemutakhiran adalah sumber-sumber pustaka yang terbaru untuk menghindari teori-teori atau bahasan yang sudah kadaluwarsa. Namun untuk penelitian historis, masih diperlukan sumber bacaan yang sudah lama ini. Sebab, sumber bacaan yang telah lama mungkin memuat teori-teori atau konsep-konsep yang sudah tidak berlaku karena kebenarannya telah dibantah oleh teori yang lebih baru atau hasil penelitianyang lebih mutakhir;
 Edukasi adalah penelitian harus relevan bagi masalah yang sedang digarap. Jadi, hendaklah dipilih sumber-sumber yang berkaitan langsung dengan masalah yang sedang diteliti.
 Ketepatan Sumber pustaka yang menjadi pijakan pembahasan yang dipilih harus memiliki kriteria ketepatan, artinya sumber tersebut dipilih sesuai dengan derajat kesesuaian antara masalah dengan sumber pendukungnya, atau variabel penelitian yang sedang dikaji sesuai betul dengan referensi yang menjadi rujukan;
 Kejelasan yaitu hal kejelasan ini sangat terkait dengan apakah si peneliti dapat memahami betul hal-hal yang menjadi perhatiannya. Dalam hal ini peneliti memahami masalah atau variabel penelitian;
 Empiris Atau Alamiah yaitu berkenaan dengan kriteria empiris ini sangat terkait dengan temuan aktual (temuan lapangan) yang didapatkan bukan pendapat semata. Dukungan empiris yang berasal dari lapangan secara reliabel dan shahih dapat meningkatkan keakuratan kajian;
 Organisasi yaitu kriteria penilaian yang terkait dengan organisasi ini adalah berkenaan dengan keberadaan kajian pustaka atau literatur itu disusun secara baik yang mencakup pendahuluan, bagian dan ringkasan. Penataan atau penyusunan tata tulis dilakukan secara sistematis sehingga terjadi hubungan logis;
 Meyakinkan yaitu perihal ini berkenaan dengan apakah kajian pustaka itu membantu peneliti atau penulis memahami benar masalahnya sehingga mampu menyakinkan orang lain.



D. MENGORGANISASI SUBSTANSI KAJIAN KEPUSTAKAAN/LANDASAN TEORI
1. PROSEDUR KERJA PENGORGANISASIAN
Setelah informasi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian diperoleh secara komprehensif dan lengkap dengan pencatatan sumber informasi sesuai dengan aturan tata tulis yang ditetapkan, langkah berikutnya yang perlu diperhatikan oleh para peneliti ialah mengorganisasi materi yang diperoleh secara sistematis sebagai bahan acuan selama melakukan kegiatan penelitian.
Untuk memberikan sekadar rambu-rambu cara mengorganisasi data yang berasal dari bermacam-macam sumber, berikut ini diberikan beberapa langkah untuk dapat diaplikasikan sesuai dengan keadaaan yang ada.
 Mulai dengan materi hasil penelitian yang secara sekuensi diperhatikan dari yang paling relevan, relevan, dan cukup relevan;
 Membaca abstrak dari setiap penelitian lebih dahulu untuk memberikan penilaian tentang kelayakan dari permasalahan yang dibahas nantinya;
 Mencatat bagian bagian penting dan relevandengan permasalahan penelitian. Untuk menjaga agar tidak terjebak dalam unsur plagiat, para peneliti hendaknya juga mencatat sumber –sumber informasi dan mencantumkannya dalam daftar pustaka;
 Buat catatan, kutipan, atau salinan informasi dan susun secara sistematis sehingga peneliti dengan mudah dapat mencari kembali jika sewaktu-waktu diperlukan;
 Atur kartu-kartu tersebut menurut abjad atau katalog yang telah dibuat sesuai dengan interes peneliti;
 Tulis juga pada muka kartu sebaliknya, dari mana sumber tersebut diambil secara lenkap dan teliti;
 Agar mudah mencari dan mengatur kartu-kartu yang dibuat, peneliti hendaknya membuat substansi kutipan untuk setiap kartu;
 Yakinkan bahwa isi acuan tersebut dikutip secara langsung , diringkas, atau diuraikan dengan menggunakan dengan bahasa sendiri. Hal yang demikin itu dilakukan aga peneliti terhindar dari plagiator (penjiplak).

2. LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN KAJIAN PUSTAKA
Kajian pustaka dalam sebuah penelitian ilmiah berarti menempatkan dan menyimpulkan teori-teori dan konsep-konsep yang nantinya dapat memberikan kerangka kerja dalam menjelaskan suatu topik dalam sebuah penelitian. Banyak cara dan model membuat kajian pustaka, Creswell mengemukakan beberapa model sesuai dengan pendekatan penelitian yang dilakukan. Untuk pendekatan kualitatif, model pertama, peneliti menempatkan kajian pustaka pada bagian pendahuluan, ini dimaksudkan agar kajian pustaka dapat menjelaskan latar belakang secara teoritis masalah-masalah penelitian. Model kedua,menempatkan kajian pustaka pada bab terpisah seperti halnya pada pendekatan kuantitatif, model ketiga Kajian pustaka ditempatkan pada bagian akhir penelitian bersamaan dengan literatur terkait.
Untuk pendekatan kuantitatif selain menyertakan sejumlah besar teori dan konsep pada bagian pendahuluan juga memperkenalkan masalah atau menggambarkan secara detail literatur dalam bagian khusus dengan judul seperti tinjauan pustaka, kajian teori atau kajian pustaka, dan pada bagian akhir penelitian meninjau kembali literatur terkait dan membandingkan dengan temuan penelitian.
Berikut ini adalah sintesis dari langkah-langkah melakukan kajian pustaka menurut Donald Ary dan Creswell sebagai berikut.
 Mulailah dengan mengidentifikasi kata kunci topik penelitian untuk mencari materi, referensi, dan bahan pustaka yang terkait;
 Membaca abstrak laporan-laporan hasil penelitian yang relevan, bisa didapatkan dari sumber perpustakaan, jurnal, buku, dan prosiding;
 Membuat catatan hasil bacaan dengan cara membuat peta literatur (literature map) urutan dan keterkaitan topik penelitian dan referensi bibliografi secara lengkap;
 Membuat ringkasan literatur secara lengkap berdasarkan peta literatur, sesuai dengan urutan dan keterkaitan topik dari setiap variabel penelitian;
 Membuat kajian pustaka dengan menyusunnya secara tematis berdasarkan teori-teori dan konsep-konsep penting yang berkaitan dengan topik dan variabel penelitian;
 Pada akhir kajian pustaka, kemukakan pandangan umum tentang topik penelitian yang dilakukan berdasarkan literatur yang ada, dan jelaskan orisinalitas dan pentingnya topik penelitian yang akan dilakukan di banding dengan literatur yang sudah ada.



BAB III
SIMPULAN, SARAN, DAN PENUTUP

A. SIMPULAN
Teori relevan yang menjadi rasionalisasi dalam dunia penelitian atau landasan teori/ studi kepustakaan/ kajian pustaka/ tinjauan pustaka/ kajian teoretis/ tinjauan teoretis ialah teori yang relevan yang digunakan untuk menjelaskan suatu variabel yang akan diteliti sebagai usaha untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Sumber-sumber informasi yang dapat dijadikan kajian kepustakaan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: sumber primer, dan sumber sekunder. Isi dalam kajian kepustakaan ini meliputi: nama pencetus teori, tahun dan tempat pertama kali, Uraian ilmiah teori, relevansi teori tersebut dengan upaya peneliti untuk mencapai tujuan atau target penelitian. Pengorganisasiannya dimulai dari Mulai dengan materi hasil penelitian yang secara sekuensi diperhatikan dari yang paling relevan, relevan, dan cukup relevan hingga Yakinkan bahwa isi acuan tersebut dikutip secara langsung , diringkas, atau diuraikan dengan menggunakan dengan bahasa sendiri. Hal yang demikin itu dilakukan aga peneliti terhindar dari plagiator (penjiplak).

B. SARAN
Untuk para pembaca yang hendak mengetahui seluk beluk mengenai landasan teori atau studi kepustakaan ini alangkah baiknya untuk dapat membaca banyak literatur mengenai metode penelitian dari berbagai sumber.

C. PENUTUP
Demikian makalah ini dibuat, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca.




DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin, Afid. 2013. Landasan Teori Penelitian. (http://afidburhanuddin.word-
press.com/). Diakses 20 September 2015.

Mahsun. 2011. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo.

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas (Sebagai Pengembangan
Profesi Guru). Jakarta: Rajawali Pers.

Kurniawan, Alvian. 2012. “Analisis Jenis Gaya Bahasa dan Persajakan pada Syair Lagu-
Lagu Afgan dalam Album Conffension No1”. Skripsi S1 (belum diterbitkan):
Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Palembang.

Kurniawan, Arifin dkk. 2010. Studi Kepustakaan. (http://subliyanto.blogspot.co.id/).
Diakses 20 September 2015.

Solihin, Nur. (tidak ada tahun). Landasan Teori dan Kerangka Konseptual. (http://
siafut.blogspot.co.id/). Diakses 20 September 2015.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Jakarta: Bandung: Alfabeta.









Lampiran:
Contoh Studi Kepustakaan/Landasan Teori
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Literatur
2.1.1 Pengertian Gaya Bahasa atau Majas
Muljana (dikutip Pradopo, 2005:93) menyatakan, “Gaya bahasa ialah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca”. Menurut Muda (2006:624), “Gaya bahasa adalah penggunaan kata-kata kiasan dan perbandingan yang tepat untuk mengungkapkan suatu maksud agar membentuk pemilihan bahasa yang tepat”. Waluyo (1995:83) menyatakan bahwa gaya bahasa atau bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Salsabila (2011:152) mengemukakan, “Majas adalah gaya bahasa untuk melukiskan sesuatu dengan cara menyamakannya dengan sesuatu yang lain”. Tarigan (dikutip Suroto, 1989:114) menyatakan, “Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa)”.
Berdasarkan pendapat-pendapat pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa atau majas adalah suatu sistem bahasa yang menggunakan kata-kata kiasan yang timbul dari hati seorang penulis untuk mengemukakan suatu maksud dengan cara menyamakan dengan sesuatu yang lain.

KTI: PEMEROLEHAN BAHASA PADA MUHAMMAD IRFAN DIMAS OLEH ALVIAN KURNIAWAN, S.Pd.

PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA PADA MUHAMMAD IRFAN DIMAS

disusun oleh:

ALVIAN KURNIAWAN
Nomor Induk Mahasiswa 06012681519029
Program Studi Magister Pendidikan Bahasa
Bidang Kajian Utama Pendidikan Bahasa Indonesia

Mata Kuliah : Pemerolehan Bahasa Kedua
Dosen Pengasuh: 1. Dr. Subadiyono, M.Pd.
2. Dr. Agus Saripudin, S.Pd., M.Ed.











FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur tercurahkan atas kehadirat Allah swt karena atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penelitian pemerolehan bahasa pertama pada Muhammad Irfan Dimas ini dapat diselesaikan. Makalah ini disusun sebagai tugas akhir perkuliahan mata kuliah pemerolehan bahasa kedua pada semester satu program studi magister pendidikan bahasa dengan bidang kajian utama pendidikan bahasa Indonesia di Universitas Sriwijaya Palembang.
Penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Subadiyono, M.Pd dan Dr. Agus Saripudin, S.Pd., M.Ed selaku dosen pengajar mata kuliah ini, serta semua pihak yang telah membantu memberikan memotivasi, sehingga tugas ini dapat diselesaikan.
Makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dari segi isi maupun teknik penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan makalah selanjutnya.

Palembang, November 2015







DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................................
Kata Pengantar ........................................................................................................... i
Daftar Isi ...................................................................................................................... ii

Pendahuluan ................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
C. Tujuan ................................................................................................................ 2

Pembahasan ................................................................................................................. 3
A. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Fonologi 3
B. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Sintaksis 4
C. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Semantik 5
D. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Morfologi 6

Penutup ............................................................................................................................ 7
A. Simpulan ................................................................................................................ 7
B. Saran ....................................................................................................................... 7

Daftar Pustaka ............................................................................................................. 8

Lampiran ....................................................................................................................... 9




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemerolehan (aquisition) merupakan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa anak adalah proses bagi anak saat mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal. Dalam hal ini, pemerolehan bahasa pertama dapat terjadi jika anak yang sebelumnya lahir tanpa bahasa, kini telah memperoleh satu bahasa.
Anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi dari pada bentuk bahasanya pada saat ia memperoleh bahasa. Pemerolehan bahasa anak cukup kesinambungan, memiliki rangkaian yang satu dan bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Pemerolehan bahasa pertama anak tentunya berbeda-beda. Untuk melihat perbedaan itu, tidak serta merta hanya diperoleh melalui teori-teori saja. Dalam hal ini diperlukan adanya pengamatan khusus terhadap anak-anak. Sehingga, peneliti menggangap perlu untuk mengadakan penelitian terhadap pemerolehan bahasa pertama pada seorang anak berusia dua tahun yang bernama Muhammad Irfan Dimas.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang fonologi?
2. Bagaimanakah pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang sintaksis?
3. Bagaimanakah pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang semantik?
4. Bagaimanakah pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang morfologi?


C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengalisis dan mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang fonologi.
2. Untuk mengalisis dan mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang sintaksis.
3. Untuk mengalisis dan mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang semantik.
4. Untuk mengalisis dan mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang morfologi.





BAB II
PEMBAHASAN
PEMEROLEHAN BAHASA PADA MUHAMMAD IRFAN DIMAS

A. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Fonologi
Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang fonologi, diperoleh data sebagai berikut.
1. Pola Fonem “Konsonan-Vokal” dan “Vokal-Konsonan”
Kata-kata yang diucapkan Dimas berdasarkan pola fonemnya, pada umumnya dimulai dengan fonem konsonan yang kemudian diikuti fonem vokal, seperti kata “ma”, “pa”, dan lain-lain. Demikian pula sebaliknya, ada beberapa kata yang didahului dengan fonem vokal baru kemudian fonem konsonan, seperti kata “om”, “adek” dan lain-lain.

2. Mucul Fonem Vokal Rangkap dalam Satu Kata
Peneliti juga memperoleh data bahwa ada beberapa kata yang diucapkan oleh Dimas yang menggunakan dua fonem vokal yang sama dan berurutan, misalnya kata “oom”, “eek”, dan lain-lain. Meskipun juga terdapat kata-kata yang dua fonemnya berbeda, namun berurutan, seperti kata “aek”. Namun, proporsi fonem vokal yang sama dan berurutan itu lebih banyak diucapkan Dimas, dibandingkan yang berbeda fonem vokal. Bahkan ketika mengucapkan vokal yang berbeda tersebut, suara tidak terlampau jelas terdengar pada fonem kedua. Sedangkan, kata yang vokalnya sama terdengar dengan jelas dan tepat pemenggalannya.

3. Hilangnya Beberapa Konsonan Hambat di Awal Kata
Konsonan hambat pada umumnya menghambat pengucapan ketika udara keluar dari paru-paru. Konsonan di awal kata seperti /p/, /b/, /k/, /t/ dan /d/ sering sekali hilang pada saat diucapkan oleh Dimas. Dalam pengamatan peneliti, Dimas sering mengucapkan kata “asah” dari kata “basah”, “ucuk” dari kata “busuk” yang berarti menghilangkan konsonan “b” di awal kata; selain itu terdengar pula kata “aket” dari kata “sakit”, “ano” dari kata “sano” yang berarti menghilangkan konsonan “s” di awal kata. Selain itu, tidak munculnya konsonan “t”, pada kata “empat” yang berarti “tempat”, “angkap” dari kata “tangkap”. Sedangkan, pada fonem “k” selain hilang, terkadang juga berubah fonem, misal: “kau” menjadi “au”, “kakak” menjadi “tatak”, dan lain-lain.

4. Sulit Menyebutkan Suku Kata Awal yang Dimatikan dengan Konsonan Nasal “N”
Konsonan nasal adalah konsonan yang dihasilkan oleh udara yang keluar dari paru-paru melalui hidung. Beberapa kata yang suku katanya dimatikan dengan konsonan “n” terdengar tidak ada. Konsonan “n” tersebut justru terdengar bergabung dengan suku kata setelahnya. Misalkan kata “gendong” hanya terdengar “ndong”; kata “kencing” terdengar “nceng”; “minta” terdengar “ntak”; kata “bunda” menjadi “nda”, dan lain-lain.

5. Berubahnya Fonem “S” menjadi “C”
Fonem “s” sering terdengar menjadi “c”, hal ini terjadi pada sebagian kata yang fonem “s” nya terletak di awal kata dan di tengah. Contoh: kata “susu” menjadi “cucu”; “satu” menjadi “catu”, dan lain-lain.


B. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Sintaksis
Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang sintaksis, diperoleh data sebagai berikut.
1. Mampu Menyebutkan Satu Kata (Holophrase) dan Frasa
Dalam pengamatan yang dilakukan, Dimas telah mampu menyebutkan berbagai macam kata, seperti: nomina, verba, adjektiva, adverbia, dan lain-lain. Dimas juga mampu mengucapkan frasa yang terdiri atas dua sampai tiga kata, seperti: “Mbah Emas” maksudnya “Simbah Dimas”; “gi awe” maksudnya “pergi begawe”, dan lain-lain.

2. Inversi Kata
Predikat sering diucapkan di awal subyek oleh Dimas. Data yang tercatat menyatakan bahwa Dimas pernah mengatakan “otong aek” (motor naik); “eek Emas” (eek Dimas); “mpak tatak Ado” (campak kakak Aldo), dan lain-lain.

3. Elipsis Fungsi Kalimat
Beberapa fungsi kalimat sering hilang atau tidak terdengar dalam ucapan Dimas. Secara dominan, fungsi predikat sering ditiadakan. Hal ini ditemukan pada ucapan “Oom awe” (Om gawe) dalam ucapan ini, tidak ditemukan predikat “pergi”; selain itu “Mbah emen” (Simbah permen) dalam hal ini tidak ditemukan predikat “beli”, dan lain-lain.

4. Mampu Menyebutkan Kalimat Tunggal
Meskipun tidak semua ucapan mampu berbentuk kalimat tunggal dengan fungsi kalimat yang kompleks, namun dari beberapa data, Dimas sudah terdengar mampu menyebutkan kata-kata yang terdiri dari tiga kata dengan fungsi subyek, predikat, dan objek dengan sempurna. Contoh: “Emas num cucu.” (Dimas minum susu.); “Atas num pi.” (Akas minum kopi.), dan lain-lain.


C. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Semantik
Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang semantik, diperoleh data sebagai berikut.
1. Menyebutkan Sesuatu Hal Berdasarkan Kata Umumnya
Sewaktu berada di kamar mandi, Dimas melihat ada ikan tempalo di dalam bak. Responsif yang dilakukan adalah mengatakan kata “tu ikan”. Secara pemaknaan, bisa jadi Dimas menginformasikan bahwa di situ ada ikan, ikan itu bergerak, dan lain-lain.
Hanya saja kata yang dirujuknya lebih bersifat umum. Ia tidak menyebutkan kata “tempalo” dengan cara pengucapannya. Sama juga ketika ada teman peneliti saat berkunjung di rumah peneliti. Dimas memanggilnya dengan kata “Oom” padahal peneliti sempat menginformasikan namanya adalah Om Ridho.

2. Mengolaborasikan Ujaran dengan Kinestetik
Ucapan Dimas kadang dapat dipahami dari gerakan yang dilakukannya untuk melengkapi ujaran yang disampaikannya. Suatu ketika, Dimas mengatakan “mama aket” (mama sakit) sambil menunjuk kakinya sendiri. Dari kinesik yang dilakukan, secara tidak langsung peneliti menangkap bahwa Dimas hendak menginormasikan bahwa kaki mamanya sakit.
Selain itu, Dimas pernah menangis saat di rumah peneliti sambil berkata “alek” (balik) dengan menunjuk ke arah rumah mamanya yang terletak di depan rumah peneliti. Dari ujaran dan kinestetik tersebut, Dimas mungkin menyampaikan maksud secara verbal dan nonverbal yaitu “Ayo pulang ke rumah mama!”

D. Pemerolehan Bahasa Pertama Muhammad Irfan Dimas pada Bidang Morfologi
Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang morologi, diperoleh data sebagai berikut.
1. Menyebutkan Beberapa Bentuk Kata Dasar atau Kata Asal Antara 1-2 Suku Kata
Kata dasar atau kata asal adalah kata yang belum mengalami perubahan bentuk (kata yang bentuknya masih sederhana). Ditinjau dari jumlah suku katanya, Dimas mampu memperoleh kosa kata dasar yang jumlahnya berkisaran antara satu hingga dua suku kata. Sebagai contoh satu suku kata adalah kata “mam”, “mbah”, “om”, dan lain-lain; Contoh untuk dua suku kata misalnya “ta-tak”, “mo-bing”, “pa-pa”, “a-no”, dan lain-lain;

2. Predikat Berbentuk Kata Dasar
Sangat jarang ditemukan kata afiks (kata berimbuhan) pada predikat, baik berbentuk prefiks, infiks ataupun sufiks. Dimas baru mampu menyebutkan predikat dalam bentuk kata dasar saja. Contoh: “Emas kan emen.”
Kata “memakan” disebutnya “kan” atau “makan”.

3. Mampu Menyebutkan Jenis Kata Benda, Sifat, Kerja, Keterangan, dan Seru
Kata benda (nomina) sering sekali terdengar dari ucapan Dimas. Ia mampu menyebutkan kata benda berbentuk abstrak, seperti kendaraan, hewan, dan lain-lain. Selain kata benda, ia juga mampu menyebutkan kata kerja, keterangan, dan kata seru (interjeksi).



BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Adapun simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada
bidang fonologi, diperoleh data bahwa pola fonem ujaran “konsonan-vokal” dan “vokal-
konsonan”; Mucul fonem vokal rangkap dalam satu kata; Hilangnya beberapa konsonan
hambat di awal kata; Sulit menyebutkan suku kata awal yang dimatikan dengan konsonan nasal “n”, dan berubahnya fonem “s” menjadi “c”
2. Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang sintaksis, diperoleh data bahwa mampu menyebutkan satu kata (Holophrase) dan frasa; sering menginversi kata; Terdapat elipsis fungsi kalimat, dan mampu menyebutkan kalimat tunggal
3. Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada bidang semantik, diperoleh data bahwa dapat menyebutkan sesuatu hal berdasarkan kata umumnya, dan mengolaborasikan ujaran dengan kinestetik
4. Berdasarkan pengamatan pemerolehan bahasa pertama Muhammad Irfan Dimas pada
bidang morologi, diperoleh data bahwa dapat menyebutkan beberapa bentuk kata
dasar atau kata asal antara 1-2 suku kata; Memiliki predikat berbentuk kata dasar;
Mampu menyebutkan jenis kata benda, sifat, kerja, keterangan, dan seru.

B. Saran
Bagi pembaca diharapkan dapat menggali lagi penelitian serupa, dan membaca lebih lanjut mengenai pemerolehan bahasa dari berbagai sumber untuk memperkaya pengetahuan tentang pemerolehan bahasa itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA




Lampiran:

Mengenal Lebih Dekat Muhammad Irfan Dimas

Muhammad Irfan Dimas atau Dimas merupakan Putra kedua pasangan Ibu Rina Aprina dan Bapak Muhammad Iwan. Ia dilahirkan di Palembang, 1 November 2013 yang beralamatkan di Jalan Bungaran 5 RT 14 RW 03 Kelurahan 8 Ulu Kecamatan Seberang Ulu 1 Palembang 30252. Dimas berasal dari kalangan keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Meskipun kedua orang tuanya hanya memiliki tempat usaha kecil, namun setidaknya kehidupannya dapat dikategorikan berkecukupan.
Kedua orang tua Dimas sama-sama berasal dari kota Palembang. Untuk itu, bahasa pertama yang seharusnya diperoleh Dimas adalah bahasa Palembang. Hanya saja, Dimas sering sekali diasuh dengan orang tua peneliti yang notabennya berasal dari Sleman, Yogyakarta dan OKU, Sumatera Selatan yang telah menetap di Palembang selama lima belas tahun. Jadi, selain memperoleh bahasa Palembang, Dimas juga memperoleh bahasa Jawa dan bahasa Komering.
Pada usiannya yang kedua tahun ini, peneliti melakukan penelitian terhadap pemerolehan bahasa pertama Dimas. Penelitian ini dilakukan kurang lebih selama empat bulan setelah memperoleh tugas untuk mengamati pemerolehan bahasa pada anak oleh dosen pengasuh mata kuliah Pemerolehan Bahasa Kedua pada bulan Agustus 2015 yang lalu hingga November 2015.
Penelitian dilakukan dengan cara pengamatan langsung kepada sang anak yang kemudian dicatat dalam sebuah buku. Penelitian dilakukan secara berkala, meski tidak setiap hari, namun sesekali apabila peneliti menemukan adanya kosa kata baru yang diucapkan Dimas, maka peneliti akan mencatatnya. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara dengan ibu peneliti yang kesehariannya lebih sering menghabiskan waktu berinteraksi dengan anak tersebut.