Kamis, 02 Juni 2011

Makalah Mata Kuliah Linguistik Umum "Psikolinguistik"

PSIKOLINGUISTIK


Hakekat Psikolinguistik
Banyak sekali istilah yang dapat dikaitkan atau diartikan pada devinisi Psikolinguistik atau psikologi bahasa antara lain sebagai berikut :
a. Ialah kajian faktor-faktor psikologi dan neurobiologi yang membolehkan manusia memperoleh, menggunakan, dan memahami bahasa. Penglibatan-penglibatan singkat dalam bidang ini
b. Ialah Ilmu linguistik yang mengutamakan pengamatan pada proses kejiwaan dibalik gejala-gejala bahasa.
c. Ialah Hubungan yang menunjukkan gejala linguistic dan gejala psikologi, apa hubungan antara kemamapuan sensori dan kemamapuan intelektualitas dari manusia dengan sistematik bahasa dan pengetahuan yang dimiliki oleh pemakai bahasa itu sendiri.
d. Ialah bidang kerabat dekat Linguistik dan tidak ada hubungannya dengan pengertian linguistik terapan.

Subpokok bahasan di atas telah membahas topik awal yang sangat penting dalam bab pengantar terhadap kajian psikolinguistik, yakni hakikat psikolinguistik. Pada pembahasan tersebut, dikemukakan sejumlah definisi psikolinguistik yang diberikan para ahli. Meskipun beragam, namun semua definisi secara umum merujuk kepada kajian bahasa dalam sudut pandang psikolog.
Selain itu, untuk mempermudah Anda dalam memahami hakikat psikolinguistik, pada bagian selanjutnya telah disajikan konsep-konsep yang berkait dengan psikolinguistik. Pembahasan antara lain meliputi telaah singkat mengenai tata bahasa dan fungsinya dalam pemahaman dan produksi kalimat; dikotomi performasi dan kompetensi; struktur dan fungsi kalimat.
Struktur dan fungsi kalimat dibahas secara lebih terperinci, mengingat inilah pokok yang akan menjadi kajian dalam keseluruhan rangkaian modul ini. Dalam pembahasan struktur kalimat juga dibahas struktur lahir dan cara-cara penggabungannya. Kemudian, dalam bidang fungsi kalimat, dibahas berbagai hal berkaitan dengan tindak tutur, isi proposisi dan struktur tema dalam kalimat.
Sejarah Linguistik
Berdasarkan Etimologi Psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistic, yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri. Pada awalnya kedua kerjasama antara kedua disiplin ilmu itu disebut linguistic psychology dan ada yang menyebutnya Psychology of language. Kemudian sebagai hasil kerja sama yang lebih baik, lebih terarah, dan lebih sistematis diantara kedua ilmu itu, lahirlah satu disiplin ilmu baru yang disebut psikolinguistik.
Psikolinguistik meliputi proses-proses kognitif yang membolehkan penjanaan ayat-ayat yang bertatabahasa dan bermakna dari segi perbendaharaan kata dan struktur tatabahasa, serta proses-proses yang membolehkan pemahaman pernyataan, perkataan, teks, dan sebagainya. Psikolinguistik perkembangan mengkaji keupayaan bayi-bayi dan kanak-kanak untuk membelajari bahasa, biasanya melalui kaedah-kaedah uji kaji atau sekurang-kurangnya kaedah kuantitatif (dan bukannya pencerapan naturalistik seperti yang dilakukan oleh Jean Piaget dalam penyelidikannya terhadap perkembangan kanak-kanak).
Psikolinguistik berkembang disebabkan oleh tiga hal :
a. Perkembangan teori-teori Informasi,
b. Perkembangan Psikologi belajar dan retensi, dan
c. Perkembangan dari linguistik itu sendiri.
Dalam pendekatan linguistik ini yang diamati mengenai pengucapan penutur
dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini bersifat menyeluruh, mengaitkan segala segi yang melatar belakangi setiap ucapan.
Titik Konprehensi
Ialah titik atau seseorang merasa dalam dirinya ada pengalaman baru dan mengatakan dalam dirinya, ya aku mengerti. Titik konperehensi baru bias memberikan ketenangan batinm lebih-lebih bagi seseorang yang sedang belajar atau menekuni sesuatu.
Nada, Suara dan prosodi
Dari nada dan rosodi ucapan seseorang, kita bisa merasakan bagaimana suasana hati orang itu; marah, puas, kecewa, cemas, putus asa, penuh harapan dan seterusnya.
Irama ide dan kata kunci
Menggunakan tiga prinsip ; relevan, baru menurut konteks, dank has
Arti Denotasi dan Konotatif
Arti kata secara jelas dan tetap pergeseran tidak diharapkan (makna denotatif) Tindakan linguistic bisa berlainan dengan apa yang terjadi dalam proses psikolinguistik, keduanya saling berhubungan. Disebut arti personal atau konotatif


Nuansa
Perlocutionary act ialah tenaga dari si pembicara yang membangkitkan proses pada diri pendengarnya. Nuansa terjadi pada pihak pendengar ini merupakan hal yang dibangkitkan oleh prolocutionary act.Nuansa mirip dengan interpretasi. Nuansa bersifat pasif dan spontan.
Kosa kata, ideom dan Idealisme
Semua kosa kata tidak semuanya dimiliki masyarakat, yang dikuasai sebanyak pengalamannya. Kata-kata dan ideom diperlukan untuk mengidealisasikan pengalaman.Perbedaan kosa katra dalam berbahasa sesungguhnya bukan sekedar perbedaan system fonologi dan system persukuan. Ini dilator belakangi oleh perbedaan pengalaman dan budayanya.
Idiosinkretisme
Tutur kata seseorang menunjukkan cirri khas tertentu baik kata, bentukkata, atau susunan kalimatnya. Penyebabnya ialah :
1. Mungkin belum menguasai bahasanya,
2.Mungkin juga pengalamannya yang hendak diidealisasika memang khas inilah yang dimaksud dengan ideosinkretik.
Psikologi dalam Linguistik
Von Humboldt (1767-1835), pakar linguistic berkebangsaan Jerman telah mencoba mengkaji hubungan antara bahasa dengan pemikiran manusia. Dengan cara membandingkan bahasa-bahasa yang berlainan dengan tabiat-tabiat bangsa-bangsa penutur bahasa itu.
Ferdinand de Saussure (1858-1935) Pakar Linguistik berkebangsaan Swiss telah berusaha menerangkan apa sebenarnya bahasa itu. Ini berarti, kalau ingin mengkaji bahasa secara lengkap, maka kedua disiplin, yakni linguistic dan psikologi harus digunakan. Hal ini dikatakan karena dia beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologis.
Edwars Sapir ( 1884-1939), pakar Linguistik dan antropologi bangsa Amerika, telah mengikut sertakan psikologi dalam pengkajian bahasa. Psikologi dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat dalam pengkajian bahasa.
Leonard Bloomfield (1887-1949) pakar linguistikbangsa Amerika, dalam usahanya menganalisis bahasa telah dipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang saling bertentangan yaitu mentalisme dan behaviorisme.
Otto Jespersen Pakar Linguistik berkebangsaan Denmark, telah menganalisis bahasa menurut psikologis mentalistik yang juga sedikit berbau behaviourisme.
Linguistik dalam Psikologi
John Dewey (1859 – 1952), pakar psikologi berkebangsaan Amerika, seorang empirisme murni. Beliau telah mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguistik bahasa kanak-kanak berdasarkan prinsip-prinsip psikologi.
Karl Bucher Pakar Psikologi kebangsaan Jerman, dalam bukunya sparch Theorie (1934) bahwa bahasa manusia itu mempunyai tiga fungsi yang disebut Kungabe , Appell, dan Darstellung.
Wundt (1832 – 1920), ahli psikologi kebangsaan Jerman, Orang pertama yang mengembangkan secara sistematis teori mentalistik bahasa. Bahwa bahasa adalah alat untuk melahirkan pikiran .
Watson (1878 – 1958), ahli psikologi behaviorisme berkebangsaan Amerika. Beliau menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau kegiatanlainnya seperti makan, berjalan, dan melompat.
Weiss, ahli psikologi behavioursme Amerika, Beliau mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan bentuk fisik, maka wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukkan.

Subdisiplin Psikolinguistik
Psikolinguistik bersifat antara disiplin dan dikaji oleh orang-orang daripada berbagai-bagai bidang, seperti psikologi, sains kognitif, dan linguistik. Adanya banyak subagian dalam bidang psikolinguistik yang mendasari komponen-komponen bahasa manusia.Diantara subdisiplin ilmu itu adalah sebagai berikut :
a. Psikolinguistik Teoritis,
b. Psikolinguistik Perkembangan,
c. Psikolinguistik Sosial,
d. Psikolingistik Pendidikan,
e. Psikolinguistik Neurologi,
f. Psikolinguistik Eksperimen,
g. Psikolinguistik Terapan,
Perkaidahan
Kebanyakan perkaedahan dalam bidang psikolinguistik mengambil bentuk uji-uji kaji tingkah laku. Dalam jenis-jenis kajian ini, subjek-subjek eksperimen diberikan sesuatu bentuk input linguistik dan dimintai melakukan sesuatu tugas (umpamanya, membuat pertimbangan, menghasilkan semula rangsangan, membaca perkataan yang dipaparkan dengan kuat). Masa tindak balas (biasanya pada peringkat milisaat) dan kadar jawaban yang betul paling biasa digunakan untuk mengukur prestasi.
Tugas-tugas ini mungkin termasuk meminta subjek menukarkan kata nama menjadi kata kerja; umpamanya, "buku" membayangkan "menulis", "air" membayangkan "minum", dan sebagainya. Lagi satu eksperimen mungkin memberikan ayat aktif seperti "Ali membaling bola kepada Ahmad", serta padanan ayat pasifnya, "Bola itu dibaling oleh Ali kepada Ahmad", lalu bertanya, "Siapakah yang membaling bola itu?" Kita mungkin akan menyimpulkan bahawa ayat-ayat aktif dapat diproses dengan lebih mudah (lebih cepat), berbanding dengan ayat-ayat pasif (sebenarnya, ini telah dibuktikan benar). Lagi menarik, kita mungkin mendapati bahawa sesetengah orang tidak berupaya memahami ayat-ayat pasif (ini juga terbukti benar), dan kita mungkin akan mengambil langkah-langkah sementaraan untuk memahami jenis-jenis kekurangan bahasa yang tertentu (secara amnya dikumpulkan ke dalam istilah afasia yang umum).
Sehingga kemunculan teknik-teknik perubatan tak invasif, pembedahan otak merupakan cara yang lebih disukai oleh penyelidik-penyelidik bahasa untuk memahami bagaimana bahasa bertindak di dalam otak. Umpamanya, pemotongan korpus kalosum (berkas saraf yang mengaitkan kedua-dua hemisfera otak) merupakan rawatan untuk sesetengah jenis epilepsi pada suatu ketika. Jadi penyelidik-penyelidik dapat mengkaji cara-cara bagaimana pemahaman dan penghasilan bahasa akan dijejaskan oleh pembedahan yang drastik. Sudah tentu, otak tidak dibedah hanya untuk mengkaji bahasa. Bagaimanapun, jika patologi memerlukan pembedahan otak, penyelidik-penyelidik bahasa akan mengambil kesempatan itu untuk mengejar penyelidikan mereka.
Pemodelan pengiraan merupakan lagi sejenis perkaedahan, dan merujuk kepada amalan membina model-model kognitif dalam bentuk atur cara boleh laku. Atur-atur cara ini amat berguna kerana ia mendorong ahli-ahli teori supaya mengemukakan hipotesis-hipotesis yang lebih jelas, dan kerana atur-atur cara ini boleh dipergunakan untuk menjanakan ramalan-ramalan yang lebih tepat bagi model-model teori yang amat rumit sehingga analisis diskursif tidak boleh dipercayai (umpamanya, model DRC untuk pembacaan dan pengecaman kata yang dicadangkan oleh Coltheart dan rakan-rakan sekerjanya).
Lebih terkini, penjejakan mata telah dipergunakan untuk mengkaji pemprosesan bahasa dalam talian. Bermula dengan Tanenhaus et al. , sebilangan kajian telah mula menggunakan gerakan mata sebagai alat untuk mengkaji proses-proses kognitif yang berkait dengan bahasa pertuturan. Oleh sebab gerakan-gerakan mata adalah amat berkait dengan fokus perhatian terkini, pemprosesan bahasa boleh dikaji melalui pengawasan gerakan-gerakan mata ketika seseorang subjek diberikan input linguistik


Generasi Dalam Psikolinguistik
Berdasarkan artikel karangan Mehler dan Noizet yang berjudul “Vers Une Modelle Psycolinguistique du Locuteur” yang berisi tiga generasi dalam psikolinguistik yaitu :
a. Psikolinguistik Generasi Pertama
Adalah psikolinguistik dengan para pakar yang menulis artikel dalam kumpulan karangan yang berjudul A Survey of theory and Research Problems .
b. Psikolingustik Generasi Kedua,
Pada generasi ini dapat mengatasi cirri-ciri atomistic dari psikolinguistik Osgood-Sebeok. Psikolinguistik ini berpendapat bahwa dalam proses berbahasa bukanlah butir-butir bahasa yang diperoleh, melainkan kaidah dan system kaidahlah yang diperoleh.
c. Psikolinguistik Generasi ketiga
Yang pada dasarnya memiliki yaitu ; Orientasi yang berprilaku kepeda psikollogi tet5api bukan psikologi perilaku, Keterlepasan mereka dari kerangka “psikolinguistik kalimat” dan keterlibatan dalam psikolinguistik yang berdasarkan situasi dan konteks, Adanya satu ketergeseran dari analisis mengenai proses ujaran yang abstrak ke analisis komunikasi dan perpikiran.
Persoalan dan Bidang Pendidikan Psikolinguistik
Adanya beberapa soalan yang belum dijawab dalam bidang psikolinguistik. Sebagiannya telah dikemukakan dalam bagian "Teori-teori" di atas. Umpamanya, adakah keupayaan manusia untuk menggunakan sintaksis berdasarkan struktur-struktur mental semula jadi atau adakah pertuturan sintaksis suatu fungsi kecerdasan dan interaksi dengan manusia yang lain? Bolehkah kita mereka bentuk uji-uji kaji psikolinguistik untuk menjawabnya? Penyelidikan dalam bidang komunikasi haiwan dapat memberi sumbangan yang banyak dalam persoalan-persoalan ini.
Hampir semua bayi manusia yang sehat memperoleh bahasa dengan mudah pada tahun-tahun pertama dalam hidup mereka. Ini adalah benar untuk semua kebudayaan dan masyarakat.Terdapat satu bidang yang luas yang dipanggil afasia yang mengolahkan kekurangan-kekurangan bahasa. Bolehkah penyelidikan dalam bidang psikolinguistik menghasilkan sesetengah nilai terapi? Tambahan pula, orang-orang dewasa lebih susah membelajari bahasa kedua berbanding dengan bayi-bayi membelajari bahasa pertama mereka (bayi-bayi dwibahasa berupaya membelajari kedua-dua bahasa asli mereka dengan mudah). Oleh itu, tempoh genting mungkin wujud ketika bahasa dapat dibelajari dengan mudah. Banyak penyelidikan dalam psikolinguistik menumpukan perhatian pada bagaimana keupayaan ini berkembang dan merosot dengan berlalunya masa. Ia kelihatan juga bahawa semakin banyak bahasa seseorang mengetahui, semakin mudah orang itu dapat membelajari bahasa-bahasa yang baru.
Aliran-aliran Pemikiran dalam Psikolinguistik
Pada subpokok bahasan ini, kita telah membahas sejumlah konsep pendapat-pendapat para teorisi mengenai bagaimana seseorang memahami dan merespons terhadap apa-apa yang ada di alam semesta ini. Kita telah berbicara mengenai pandangan-pandangan kaum mentalis dan kaum bahavioris, terutama dalam kaitan dengan keterhubungan antara bahasa, ujaran dan pikiran. Menurut kaum mentalis, seorang manusia dipandang memiliki sebuah akal (mind) yang berbeda dari badan (body) orang tersebut. Artinya bahwa badan dan akal dianggap sebagai dua hal yang berinteraksi satu sama lain, yang salah sati di antaranya mungkin menyebabkan atau mungkin mengontrol peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bagian lainnya. Dalam kaitan dengan perilaku secara keseluruhan, pandangan ini berpendapat bahwa seseorang berperilaku seperti yang mereka lakukan itu bisa merupakan hasil perilaku badan secara tersendiri, seperti bernapas atau bisa pula merupakan hasil interaksi antara badan dan pikiran. Mentalisme dapat dibagi menjadi dua, yakni empirisme dan rasionalisme.
Kedua pendapat ini pun memiliki pandangan-pandangan yang berbeda dalam memahami persoalan gagasan-gagasan batin atau pengetahuan. Semua kaum mentalis bersepakat mengenai adanya akal dan bahwa manusia memiliki pengetahuan dan gagasan di dalam akalnya. Meskipun demikian, mereka tidak bersepakat dalam hal bagaimana gagasan-gagasan tersebut bisa ada di dalam akal. Apakah gagasan-gagasan tersebut seluruhnya diperoleh dari pengalaman (pendapat kaum empiris) atau gagasan-gagasan tersebut sudah ada di dalam akal sejak lahir (gagasan kaum rasional). Bahkan di dalam kedua aliran ini pun, terdapat perbedaan pendapat yang rinciannya akan kita bahas nanti.
Kemudian, diketengahkan pembahasan mengenai empirisme. Dalam kaitan ini telah dibahas kenyataan bahwa kata empiris dan empirisme telah berkembang menjadi dua istilah yang memiliki dua makna yang berbeda. Setelah itu, dibahas pula isu lain yang mengelompokkan kaum empiris, yakni isu yang berkenaan dengan pertanyaan apakah gagasan-gagasan di dalam akal manusia yang membentuk pengetahuan bersifat universal atau umum di samping juga bersifat fisik.
Pada bagian selanjutnya, telah dibahas pendapat-pendapat kaum behavioris, antara lain pendapat-pendapat John B. Watson, pendiri behaviorisme. Watson menganggap bahwa kesadaran merupakan tahayul-tahayul radius yang tidak relevan terhadap studi psikologi. Watson mengatakan bahwa keyakinan pada adanya kesadaran berkaitan dengan keyakinan masa-masa nenek moyang mengenai tahayul. Magis-magis senantiasa hidup. Konsep-konsep warisan masa praberadab ini telah membuat kebangkitan dan pertumbuhan psikologis ilmiah menjadi sangat sulit. Kriteria Watson dalam menentukan apakah sesuatu itu ada atau tidak ada adalah berdasarkan apakah hal tersebut dapat diamati atau tidak dapat diamati.
Selain itu telah pula diketengahkan pendapat behaviorisme epifenomenal. Sebagian besar bahavioris setelah Watson menganut materislisme, yakni yang doktrin dasarnya adalah bahwa hanya ada satu hal di dalam semesta ini yaitu materi. Pendapat ini merupakan pendapat yang sangat ekstrim. Mereka merumuskan posisi mereka bahwa pada umumnya tidak ada penolakan terhadap keberadaan akal. Meskipun demikian, dalam praktiknya mereka tidak berbeda dari Watson, sebab tidak ada seorang pun pendukungnya yang mendukung studi mengenai akal. Banyak di antara mereka mengambil pandangan epifenomenal yang menyatakan bahwa akal ada, tetapi hanya merupakan salah satu refleksi dari proses-proses badaniah yang tidak mempengaruhi peristiwa-peristiwa di dalam badan. Sebagian behavioris lain mengambil pandangan reduksionis. Mereka memberikan kemungkinan kepada akal untuk tegak berdiri, seperti badan, tetapi mereka meyakini apa pun yang terjadi di akal akal juga terjadi di dalam badan. Pendapat ini berbeda dengan epifenomenal yang berpendapat bahwa badan merupakan realitas utama. Dengan mengambil posisi ini seseorang meyakini bahwa untuk mengetahui akal harus melalui studi mengenai badan maka tidak ada keperluan untuk mempalajari akal. Dengan demikian, sisi akal menjadi ciut dan tinggallah badan.
Dalam subpokok bahasan kedua ini telah dibahas hal-hal berikut: daya-daya akal dan alat pemerolehan bahasa, isi dan operasi alat pemerolehan bahasa, dan argumen-argumen Chomsky bagi alat pemeroleh bahasa. Dalam kaitan dengan daya akal dan APB, Chomsky menyatakan bahwa manusia dilahirkan dengan akal yang berisi pengetahuan batin yang berkait dengan sejumlah bidang yang berbeda-beda. Salah satu sari pengetahuan tersebut berkait dengan bahasa. Chomsky menyebut pengetahuan batin yang berkait dengan bahasa ini sebagai language acquisition device atau yang lebih populer sebagai LAD, yang dalam modul disebut sebagai alat pemeroleh bahasa atau APB. Chomsky berpendapat bahwa daya-daya dalam bidang yang berbeda yang disebut di atas, relatif mandiri satu sama lain. Artinya tidak saling berkait. Bahkan dalam kaitan dengan pemerolehan bahasa, Chomsky berpendapat bahwa bagi pemerolehan bahasa, pengetahuan batin saja sudah cukup dan pengetahuan matematis serta pengetahuan logika tidak diperlukan dalam kegiatan ini.Dalam hubungannya dengan isi dan operasi APB, Chomsky membagi isi APB menjadi tiga kelompok, yakni gagasan substantif; gagasan formal, dan gagasan-gagasan yang oleh Steinberg disebut sebagai gagasan-gagasan konstruktif.
Masing-masing dari ketiga jenis gagasan ini akan dirinci disertai contoh-contoh seperlunya. Gagasan-gagasan substantif adalah gagasan-gagasan yang muncul dalam sejumlah relasi atau dijalankan oleh sejumlah operasi, misalnya ciri-ciri fonetis, ciri-ciri sintaktik, dan ciri-ciri semantik.
Pada bagian akhir subpokok bahasan diketengahkan argumen-argumen yang dikemukakan Chomsky dalam mempertahankan APB yang tertuang dalam bentuk empat argumen, yakni :
(1) keunikan tata bahasa,
(2) data masukan yang tidak sempurna,
(3) ketidakselarasan intelegensi, dan
(4) kemudahan dan kecepatan pemerolehan bahasa anak.
Keterkaitan antara bahasa, Pikiran dan Ujaran
Pembahasan pada sub pokok bahasan di atas meliputi keterkaitan antara bahasa, pikiran dan uraian. Pembahasan difokuskan pada anggapan-anggapan kaum behavioris mengenai keterkaitan antara bahasa dengan pikiran, yang kemudian diikuti oleh argumen-argumen yang menentang anggapan tersebut. Namun, untuk kepentingan modul ini, hanya dua anggapan yang paling penting yang disajikan. Dua anggapan lainnya hanya disarikan dan disajikan secara singkat pada bagian akhir pembahasan. Anggapan-anggapan bahwa
1) bahasa merupakan landasan bagi pikiran,
2) bahasa merupakan landasan utama bagi pikiran,
3) bahasa mempengaruhi pandangan, persepsi, dan pemahaman manusia mengenai dunia di sekelilingnya serta mengenai budaya tempat ia hidup memiliki argumen argumen yang kurang kuat. Bukti-bukti bahwa anak-anak yang belum bisa berbicara telah mampu memahami ujaran orang yang berbicara kepadanya, kenyataan bahwa orang tuli dapat memberi respons yang memadai terhadap orang yang berinteraksi dengannya, dan kenyataan bahwa multibahasawan hanya memiliki satu keyakinan dan pandangan hidup, serta kenyataan bahwa orang-orang yang memiliki bahasa yang sama memiliki persepsi yang berbeda mengukuhkan kelemahan argumen tersebut.
Proses pemahaman dan Produksi Bahasa
Pada subpokok bahasan ini telah dibahas proses produksi dan pemahaman bahasa. Pada bagian terdahulu dikemukakan kelemahan model-model sintaksis yang dianut oleh Chomsky dan kawan-kawannya. Kemudian, pembahasan diakhiri dengan alternatif orientasi penjelasan yang berdasarkan analisis semantik. Setelah itu disajikan alasan-alasan serta contoh analisis yang berdasarkan semantik dalam produksi bahasa. Terakhir disajikan sebuah ilustrasi proses produksi bahasa lengkap dengan definisi tahap-tahap proses yang terlibat.
Pada bagian kedua disajikan penjelasan mengenai pemahaman bahasa. Pada bagian ini pun diajukan alternatif penjelasan berdasarkan sudut pandang proses analisis semantik. Alasan-alasan serta contoh-contoh proses pemahaman dikemukakan pada bagian selanjutnya. Terakhir barulah dikemukakan satu ilustrasi analisis berdasarkan semantik terhadap sebuah kalimat sederhana.Namun, perlu diingat bahwa model yang dikemukakan masih sangat sederhana dan baru pada tahap awal perkembangannya. Para psikolinguis masih harus berusaha keras untuk mendapatkan model yang eksplisit untuk menjelaskan proses produksi dan pemahaman bahasa.
Keterkaitan Psikolinguistik Dengan Pengajaran Bahasa
Pada subpokok bahasan ini telah dibahas dua hal penting sekaitan dengan pembahasan mengenai pemerolehan bahasa kedua, yakni pembahasan mengenai keterkaitan antara kognitif, bahasan dan sosial dan peranan pengajaran formal dalam kegiatan pemerolehan bahasa. Melalui pembahasan tersebut, sub pokok bahasan ini telah berhasil menegaskan kembali fungsi kemampuan kognitif, fungsi kemampuan berbahasa dan fungsi seseorang. Dengan demikian, apa yang telah Anda pelajari pada Modul 5 dapat Anda lihat kaitannya dengan pengajaran bahasa yang akan segera Anda pelajari pada sub pokok bahasan berikut. Mari kita ringkaskan kembali pada yang Anda telah pelajari pada sub pokok bahasan ini.
Pada bagian awal telah disajikan tiga model keterkaitan antara faktor-faktor bahasa, kognitif dan sosial. Sekaitan dengan itu, telah diketengahkan tiga model utama, yakni: model reduksionis, model interaksionis dan model terpadu. Ketiga model ini menjadi landasan penelitian dan pemahaman peranan dan keterkaitan faktor kognitif, faktor bahasa, dan faktor sosial dalam komunikasi bahasa. Kelebihan dan kelemahan masing-masing model juga telah dibahas secara umum dalam bagian ini.
Pada bagian selanjutnya, telah dibahas mengenai peranan pengajaran formal dalam proses pemerolehan bahasa. Pendapat-pendapat para ahli dalam bidang ini dikemukakan dan dibahas. Kemudian juga disajikan berbagai hasil kajian dalam bidang ini. Pendapat-pendapat tersebut terangkum dalam tiga aliran utama: aliran lintascara, aliran non-lintascara, dan aliran keragaman.
Aliran pertama, yakni aliran lintascara, berpendapat bahwa belajar dapat berkembang menjadi pemerolehan, dan sebaliknya pemerolehan dapat kemudian dilanjutkan dengan belajar. Di lain pihak, aliran non-lintascara berpendapat bahwa pemerolehan tidak dapat berkembang menjadi belajar, dan begitu pun sebaliknya. Pemerolehan dan belajar merupakan dua hal yang berbeda. Terakhir, aliran keragaman beranggapan bahwa pembelajar memiliki pendekatan yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang mereka masing-masing dan sesuai dengan jenis dan karakteristik bahan ajar yang dipelajari: Meskipun demikian, ketiga aliran ini beranggapan bahwa pengajaran formal hanya dapat membantu mempercepat pemerolehan dan bukan menentukan hasil pemerolehan.


DAFTAR PUSTAKA
http://www.google.com

Kurnia. 2008 .Diktat Mata Kuliah Linguistik Umum. Palembang: FKIP-PGRI

Chaer, Abdul. 2002. Psikolingustik Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar